Begitu banyak kenangan yang tercipta di jalan raya…mengamati wajah lain dari masyarakat yang teramat jujur. Tanpa tedeng aling2..terkadang membuat saya tergelak..menghela nafas..terharu biru. Ada beberapa snap shot yang masih terekam rapi dalam memori. Diantaranya akan saya ceritakan disini. pertama, perjalanan solo-jogja-solo yang saya tempuh dengan bus ekonomi. sebagian besar teman saya mengira bahwa saya pasti memanfaatkan fasilitas kereta prambanan ekspress untuk bolak balik ke rumah. kenyataannya rumah orang tua saya cukup jauh dari stasiun purwosari, dengan naik bus akan lebih praktis dan efisien meski tak jarang saya harus berasyik masyuk berbagi bau badan, bau mulut, bau kentut dan bau2 yg lainnya membuat saya bersyukur betapa nikmatnya masih diberi kesempatan untuk mencium segala rupa bau tersebut. belum lagi jika akhir pekan tiba, agaknya jarang armada bus yang beroperasi sehingga mau tidak mau memaksa saya untuk berjubel ria, kesodok kepala sini sana, keinjek kaki sana sini, pernah juga bergelantungan di pintu membuat iba beberapa orang yang melihatnya tanpa mereka bisa berbuat apa2 seraya mata mereka berkata..yaa..siapa cepat dia dapat..pernah suatu saat saya memberikan kursi saya pada seorang ibu yang mungkin seumuran dengan ibu saya, lantas tukang kernet dengan santainya nyeletuk…”wahh..dadekke calon mantu wae iki bu..” diriku senyam senyum belaka..ibu itu menimpali..”walah sayange anakku wadon kabeh je” diriku membatin..”ono-ono wae pakde..” pada fragmen lain, ada saeorang mbok pasar dengan segambreng bawaannya tersenyum gembira setelah berhasil menaiki bus yang telah lama dinantinya kemudian menyapa sang sopir…”lah suwe tenan tho dhe..wis tak enteni kat mau koq” pak pilot menimpali…”kudune sms wae lah yo..” mbokde jawab..”karepe yo ngono..”pak kapiten menyahut..”ora ke kirim po?..”mbokde menjawab enteng..”lhawong hape wae ra nduwe..” hatiku memekik..ee lhadalah..andhap asor tenan iik..hihi..belum lagi mengamati tingkah polah para pengamen dan pedagang asongan yang seolah tak pernah kehabisan akal untuk mendapatkan sepeser uang. sing penting halal!!
Snap shot dengan setting berbeda ketika saya naek angkot kuning menuju tempat tinggal saya di jogja di seputar timoho, ada sepasang mahasiswa uin yang tuna netra menaiki angkot yang sama dengan saya. Kemudian salah satunya duduk di samping saya. sempat saya bertanya dimana rumahnya dan dia menjawab singkat dan kembali bertanya..”lha mbak dimana?” saya pun menjawab cepat pula. ketika saya hendak turun saya sempatkan berpamitan dan dia mengiyakan sembari berkata..”hati-hati di jalan ya mbak”..wuaa jadi terharu dan salut sekali dengan perjuangan mereka yang begitu bersemangat belajar dengan segala keterbatasan. maka..nikmat NYA yang manakah yang kan kau dustakan?
Pernah suatu waktu saya kehabisan angkot karena hari sudah petang, maka saya memutuskan untuk naik becak. Meski agak mahal, tapi tak mengapalah yang penting saya sampai hingga asrama dengan selamat. Saya begitu menikmati hembusan angin yang bercampur dengan asap kentut truk2 ditambah motor2 yang tak mungkin berkurang jumlahnya di kota pelajar ini. Sebelum sampai di tempat tujuan saya, sempat terjadi percakapan dengan pak tukang becak. Saya menanyakan tentang dimana rumahnya dan pemangkalan becak. dia begitu antusias menceritakan aktivitas sehari2nya hingga becak berhenti melampaui ‘rumah’ saya seharusnya. Setelah saya membayar dan mengucapkan terima kasih pak tukang becak tersebut memberikan kartu namanya yang cukup apik dilengkapi alamat serta nomer hpnya. Beliau sangat mengharapkan saya dapat memanfaatkan jasanya kapanpun saya mau cukup dengan mengiriminya sms. sampai2 saya ditunjukkan isi sms para pelanggan setianya.”nggih pak sanes wekdal mbok menawi..”saya mengiyakan. Setelah merasa cukup bapak separuh baya itu pergi sebelumnya meminta saya memasukkan nomer hp saya ke hp miliknya. Kali ini saya mengaku panggil saja wati. Sesampai di kamar saya segera bersih2 diri dan seketika itu ada sms masuk di ponsel saya begini bunyinya “Mksi mbak dah mau pakai becak sblum nya maaf seandai nya ktrng puas waslm”.
melati wetan, 04 Nov ‘09
