Aksi Relawan FSG Tunas Bangsa

Beberapa menit lepas dari jam 8 pagi pada hari minggu saya menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama teman- teman FSG Tunas Bangsa di Rumah Sakit Sardjito. FSG adalah singkatan dari family supporting group. Tunas Bangsa adalah filosofi dari anak- anak yang merupakan tunas bangsa negeri ini. Kegiatan utama komunitas  FSG Tunas Bangsa yakni manghibur anak- anak yang terserang penyakit kanker dan kelainan darah secara keturunan. Singkat cerita, anak- anak yang usianya berkisar antara 1 tahun- 12 tahun itu telah di vonis oleh dokter bahwa mereka tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Kami disini memiliki kesamaan visi untuk saling berbagi kepada anak- anak tersebut.

Banyak kegiatan diselenggarakan tiap akhir pekan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya seperti bercerita, menyanyi bersama, menonton film, membuat hasta karya. Pada pekan lalu kita membuat miniatur rumah yang terbuat dari kertas sedangkan pekan sebelumnya membuat piggy bank dengan menggunaan botol aqua bekas.

Bingkisan buat adik-adik dari sponsor

Semua bersuka cita, meski memendam duka

Berikut penggalan episode suatu ketika di Sardjito:

Pagi yang lengang di rumah sakit Sardjito seketika riuh di ruangan Nuri dimana sekelompok anak dan para relawan bersama sama menyanyikan lagu pembuka yang berjudul hoki poki. Begini bunyinya:

Tangan kanan ke depan

Tangan kiri ke depan

Kedua tangan ke depan

Dan digoyang- goyangkan

Kita menari hoki- poki (2x)

Di goyang- goyang

Cerah, seorang anak perempuan dengan rambut  yang tinggal beberapa helai dengan semangat turut bernyanyi dang menggoyang-goyangkan anggota badannya meski selang infus menghiasi tangan kanannya. Kurang lebih satu jam dari jam 09.00 hingga jam 10.00 pagi setiap hari minggu para relawan berkegiatan bersama dengan adik-adik itu. Jika ditanya apa motivasi para relawan mengikuti komunitas FSG Tunas Bangsa ini, salah seorang relawan yang bernama Jalu menjawab:

“Saya hanya ingin beribadah, lewat berbagi dengan anak- anak itu”.

Tio pun menimpali:

“Justru saya yang butuh hiburan dari penatnya bekerja selama 6 hari di kantor kemudian di akhir pekan meluangkan waktu dengan bermain bersama adek-adek di Sardjito ini. Sungguh menghibur.”

Adapun latar belakang para relawan FSG sangat beragam, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja seni, pekerja lembaga swadaya masyarakat, BUMN. Asal daerah kami pun berbeda- beda, ada yang dari Flores, beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Bahkan ada 1 relawan yang bolak- balik Surabaya- Jogja setiap dua pekan sekali untuk mengikuti kegiatan FSG ini. Jumlah relawan hingga saat ini berkisar 20 orang. Senyum yang tercipta dari anak- anak itu adalah salah satu alasan yang membuat para relawan bertahan.

Di sela-sela aksi, para relawan mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu favorite mereka:

Ini jari jempol, namanya jari jempol, apa kata jari jempol anak sekolah tidak boleh ngompol.

Ini jari telunjuk, namanya jari telunjuk, apa kata jari telunjuk anak sekolah tidak boleh ngantuk.

Ini jari tengah, namanya jari tengah, apa kata jari tengah anak sekolah tidak boleh lengah

Ini jari manis, namanya jari manis, apa kata jari manis anak sekolah tidak boleh nangis

Ini jari kelingking, namanya jari kelingking, apa kata jari kelingking anak sekolah tidak boleh pusing.

Derai tawa disertai tepuk tangan tercipta setelah lagu tersebut selesai. Mungkin lagu ini menjadi obat rindu anak- anak pada bangku sekolah yang sudah lama mereka tinggalkan karena penyakit yang dideritanya yang mengakibatkan harus “pindah rumah” selama beberapa bulan ke Rumah Sakit Sardjito.

Aksi FSG

Wayang FSG beraksi


Jika ditelisik lebih dalam, FSG Tunas Bangsa menggunakan prinsip filantropi. Asumsi ini memang tidak sederhana. Dalam penelitian Seligman, seorang pakar psikologi,  membuktikan, bahwa afterglow (baca: kebahagiaan) akan dirasakan lebih dahsyat pada saat individu mencurahkan energinya misalnya dengan membacakan dongeng anak-anak yang menderita kanker daripada bersantai mengahabiskan waktu libur dengan menonton bioskop. Dalam ungkapan lain, pengalaman sensasional  lebih potensial diperoleh saat manusia melakukan aktivitas berorientasi filantropi.

Masalah filantropi relevan ditarik ke pelataran hidup berbangsa. Berbagai kebijakan nasional telah dihasilkan dengan pertimbangan demi kepentingan anak−anak Ibu Pertiwi. Pertanyaan introspektif, seberapa besar kemaslahatan yang telah dihasilkan lewat itu semua? Anak-anak yang tertawa gembira di balik rasa sakitnya serta ibu-ibu yang dengan setia menunggui mereka hingga berbulan-bulan lamanya, adalah sebagian jawabannya.