Archive for November, 2011


• Sastra merupakan kebutuhan batin, sebuah prakarsa yang istimewa
• You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.
• Love is work
• Cinta itu membebaskan. Dan kebanyakan orang selalu menanti saat jatuh cinta secara alami.

Melankolia

Jatuh cinta itu biasa saja

• Bahwa cinta sejati bukan dibangun setelah orang menikah, seperti pangkalnya cinta disebabkan oleh kebiasaan tapi diawali dalam perasaan sreg yang tiba-tiba jatuh pada pandangan pertama dan kemudian perasaan itu dipelihara dalam keberanian menyangkal diri terhadap orang yang dicintainya demi cintanya itu. Rasanya hakikat menyangkal diri ini merupakan inti pembelajaran insani yang paling pelik yang tidak sembarang orang sanggup, tapi yang segala orang ditantang untuk mampu yaitu bagaimana seseorang mau mengalah pada rasa pembenaran terhadapnya. Seraya meyakini dengan hati terbuka bahwa kebenaran manusia selalu berkadar sementara. Saat ajaib itu pasti muncul. Niscaya ada rahasia- rahasia waktu yang demikian akrab namun tak pernah bisa dipahaminya. Berapa gerangan jumlah waktu yang tersedia bagi seorang lelaki untuk menjadi manusia, sementara jawaban yang sahaja dapat dirasakan dalam cintanya. Darimana gerangan datangnya cinta kalau bukan mata turun ke hati?

 

KL, 22-11-’11

Minggu malam lalu, saya terhenyak ketika memasuki panggung eksperimen UM dan menyaksikan para pemain teater mengenakan baju kebaya. Perempuan Melayu, berkebaya a la perempuan Jawa? Karena saya dan abang Jamal datang terlambat, maka saya harus cepat menangkap alur cerita yang dimainkan oleh para mahasiswa UM. Ya, mulai dari tanggal 13-19 November 2011 UM menjadi tuan rumah perhelatan festival teater MAKUM 2011 (Majlis Kebudayaan Universiti-Universiti Malaysia). Saya sebagai salah seorang penikmat teater girang bukan kepalang ketika mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana mahasiswa Malaysia beradu teater di atas pentas.

Dengan bertajuk Opera Primadona diangkat dari karya Nano Riantiarno, pertunjukan malam itu begitu banyak kejutan. Pertama, mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia meski terkadang logat melayu itu muncul  sesekali. Oh ya, demikian sinopsis dari opera primadona yang diambil dari pamflet:

Naskhah yang telah diolah dan diadaptasikan semula ini mengangkat watak antagonis di dalam persembahan sebagai penggerak cerita. Tertumpu pada kisah kehidupan Sri panggung di pentas opera iaitu Miss Kecubung. Beliau mula melibatkan diri dengan kumpulan persembahan opera sejak berusia 15 tahun. Miss kecubung mempunyai latar belakang keluarga yang mempunyai darah seni. Kemunculan Siti Kejora di dalam kumpulannya tidak disenangi oleh miss kecubung. Ketika pertama kali beraksi, Siti Kejora mempunyai daya tarikan di atas pentas lakon dan seterusnya diberi peluang memegang peranan utama. Ini menyebabkan timbulnya perasaan iri hati dalam diri miss kecubung.

Magis...

Pemakaman Tuan Petro nan dramatis

Kedua, para pemain teater berusaha keras untuk menunjukkan totalitasnya berteater meski harus menerabas segala batas-batas norma melayu. Menurut abang saya, disini pasangan melayu yang saling berpegangan tangan, berpelukan di depan umum menjadi hal yang tabu. Dalam opera primadona karya pendiri teater koma yang bersetting di Batavia era sebelum merdeka itu banyak sekali didapati akting yang mungkin dianggap fulgar. Termasuk pakaian penari yang terbuka, berkemben-ria. Terdengar suitan dari penonton yang menurut saya terkesan tidak menghargai dari esensi seni teater itu sendiri. Ketiga, setting dalam panggung yang berubah-ubah membuat cerita begitu dinamis. Keempat, make-up para pemain yang sangat tegas menunjukkan karakter dan kisaran umur mereka. Ada salah seorang mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama Titis. Ia memiliki keahlian untuk merias para pemain supaya  nampak seperti peran yang dibawakan. Salut untuk Titis yang kali kemarin turut serta bermain di atas pentas. Dia telah berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa kita :) . Kelima, ternyata apresiasi para penonton yakni orang Malaysia terhadap seni teater tidak terlalu heboh. Ini bisa dilihat dari setelah selesai acara mereka langsung saja beranjak pulang. Berbeda dengan yang terjadi di Jogja misalnya, selepas cerita usai biasanya kami memberikan selamat pada para pemain atau sekedar berfoto. Hal ini menurut bang Jamal disebabkan orang sini tidak begitu memandang baik profesi sebagai pekerja seni. Mereka tidak begitu mendapatkan tempat dalam hati masyarakat. Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UM dalam Opera primadona: dalam pertunjukan (bukan) hanya ada satu primadona. Kalianlah itu semua. Selamat berkarya kembali bila-bila masa  :)

Stelah pementasan

Mejeng bareng pemain dan anak2 students ex-change dari UI

Kamar Flat, 15 November 2011

Porong dalam lensa

senja di ufuk barat kali porong

jatuh cinta pada senja

alhamdulillahirobbil’alamin, akhirnya azh bisa merasakan lebaran haji di Malay bersama kakanda Jamie:) Meskipun semalam terasa sangat krik-krik sebab tak ada suara gegap gempita takbir yang biasanya lazim ditemui di negeri tercinta. walhasil saya dan oyil (panggilan semena2 ke Jamz:) membunuh waktu dengan pusing2 ke digital mall. Bang Jamal begitu senang membantu orang. Seperti yang dilakukannya kali kemarin. Kita mesti naek ke lantai 4 mall yang mirip Jogja Tronik Plaza cuma buat cari kabel USB to USB yang dibutuhkan oleh kawannya tanpa dia meminta tolong ke Mas Jamal langsung. Awalnya tmen mas Jamal cuma nanya lewat BBM kalo ke digital mall naek bis (kalo disini bas) jalur brapa? stelah dijawab eh dianya  gak jadi kesana. Karena merasa iba si oyil bela2in malem lebaran nan gerimis kesana. Alasannya “..kasian dia gak punya motor, kita harus selalu berusaha berbuat baik pada orang lain..”Huhuhu…jadi trenyuh. Apalagi dia beliin saya roti yummy2 yang dipilih sesuka hati. Lumayan buat lebaran besok:) Lantas beli lauk di medan selera buat buka puasa Arofah. Sesampai di flat yang begitu jauh dengan keramaian, kami sholat isya berjamaah dan mengumandangkan takbir. Sedikit haru menyeruak dalam hati kecil saya ketika kami menyantap makanan sederhana untuk buka puasa sambil tetap sesekali bertakbir. Allahuakbar..walillaahil hamd…

Hari Idul Adha tiba. Saya dan Oyil bersiap menggunakan pakaian terbaik kemudian berkendara roda dua menuju wisma duta. Dalam perjalanan saya mengamati fenomena orang-orang Melayu, India, Arab, yang berbondong-bondong menuju masjid terdekat untuk menunaikan sholat Ied berjamaah. Mas Jamal bertanya, “…kamu bahagia dinda?” “Yeah..” Saya menjawabnya dengan mantab sambil tertawa. Burung- burung yang berterbangan dengan riang menandakan seolah mereka juga turut merayakan hari raya kedua umat Islam. “dinda…dinda…alibaba..”, dendang kanda sematawayang saya di tengah jalan. Tergelak saya dibuatnya. sesampai di wisma duta ternyata tepat sekali, sholat Ied akan segera dimulai. kita bergegas mengambil kupon sarapan yang dibagikan oleh karyawan KBRI Malaysia dan kami pun berpisah. Sekitar 200 orang Indonesia memadati wisma duta. Kita memiliki tujuan yang serupa, merayakan Idul Adha bersama orang-orang yang senasib sepenanggungan di negeri jiran. Ada yang pelajar, TKI, TKW, diplomat, pengusaha, atau orang yang hanya berlibur seperti saya tumpah ruah di halaman wisma duta menikmati sarapan bersama setelah prosesi sholat Idul Adha usai.

Ini dia memori idul adha tahun ini yang diabadikan dalam kamera digital yang mati segan hidup pun se-enak udele;p

ceria stelah kenyang ;p
Kali pertama idul adha di negeri Siti Nurhaliza;)

Semalam saya dikenalkan oleh mas Jamal kepada Prof. Amri Marzali. Beliau itu guru besar antropologi UI yang merupakan lulusan pertama antropologi Gadjah Mada sekitar tahun 1968. Sosoknya begitu bersahaja. Meski puluhan tahun jarak usia kami terbentang, tetapi Prof Amri memperlakukan kami layaknya teman.  Kami dipersilahkan untuk duduk di ruang makan menikmati secangkir teh tarik dan kue pisang sembari berbincang banyak hal hingga kurang lebih 2 jam.

Tiada yang kebetulan di dunia, sebab Sang Maha Sutradara terbaik sejagat raya telah membuat skenarionya  dengan suatu alas an. Termasuk pula mengapa abang saya dapat tinggal di flat bertetanggaan satu lantai dengan Prof Amri? Pasti Tuhan punya maksud di balik itu. Alhamdulillah saya merasa beruntung sekali dapat langsung mengenal lebih dekat beliau. Selama ini saya hanya dapat membaca karya beliau lewat buku-buku antropologi.

Setelah Prof Amri pensiun mengajar di UI beliau menjadi dosen tamu di pengajian Melayu Universitas Malaya selama kurang lebih 4 tahun. Sebelumnya beliau pernah juga tinggal selama 3 tahun. Dari dulu  Prof Amri sudah terbiasa tinggal di luar negeri  untuk  kepentingan sekolah, seminar, mengajar, riset. Jadi pekerjaan rumah tangga pun telah terbiasa dilakukannya sendiri. Istri beliau seorang dokter dan saat ini tinggal di Jakarta. Sesekali Bu Amri mengunjungi beliau di KL.  Keluarganya banyak menerima beasiswa sekolah di luar negeri, termasuk istri dan ketiga anaknya. Beliau berpesan kita harus berani mencari dan mencoba apapun beasiswa itu. Jangan takut gagal, yang penting sudah berani mencoba. Tahun depan Prof Amri akan mengakhiri masa mengajar di UM dan kembali ke negeri tercinta. Kemungkinan untuk mengajar di universitas Islam dan melanjutkan cita-citanya untuk menulis buku. Harapan beliau semoga selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Amin.

Prof Sjafri Sairin merupakan dosen antro favorit saya di UGM. Beliau  adalah sahabat Prof Amri yang setelah pensiun mengajar di universitas utara Malaysia di Kedah. Prof Sjafri menjadi lulusan kedua antropologi UGM. Kedua professor antropologi yang sangat saya hormati ini menjadi inspirasi bagi saya bahwa umur yang makin menua tidak menyurutkan niat untuk selalu membagikan ilmu dimanapun, kapanpun dan pada siapapun dengan setulusnya.

 

Senja di Kamar flat, 4 Nov 2011

 

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 84 pengikut lainnya.