Minggu malam lalu, saya terhenyak ketika memasuki panggung eksperimen UM dan menyaksikan para pemain teater mengenakan baju kebaya. Perempuan Melayu, berkebaya a la perempuan Jawa? Karena saya dan abang Jamal datang terlambat, maka saya harus cepat menangkap alur cerita yang dimainkan oleh para mahasiswa UM. Ya, mulai dari tanggal 13-19 November 2011 UM menjadi tuan rumah perhelatan festival teater MAKUM 2011 (Majlis Kebudayaan Universiti-Universiti Malaysia). Saya sebagai salah seorang penikmat teater girang bukan kepalang ketika mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana mahasiswa Malaysia beradu teater di atas pentas.
Dengan bertajuk Opera Primadona diangkat dari karya Nano Riantiarno, pertunjukan malam itu begitu banyak kejutan. Pertama, mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia meski terkadang logat melayu itu muncul sesekali. Oh ya, demikian sinopsis dari opera primadona yang diambil dari pamflet:
Naskhah yang telah diolah dan diadaptasikan semula ini mengangkat watak antagonis di dalam persembahan sebagai penggerak cerita. Tertumpu pada kisah kehidupan Sri panggung di pentas opera iaitu Miss Kecubung. Beliau mula melibatkan diri dengan kumpulan persembahan opera sejak berusia 15 tahun. Miss kecubung mempunyai latar belakang keluarga yang mempunyai darah seni. Kemunculan Siti Kejora di dalam kumpulannya tidak disenangi oleh miss kecubung. Ketika pertama kali beraksi, Siti Kejora mempunyai daya tarikan di atas pentas lakon dan seterusnya diberi peluang memegang peranan utama. Ini menyebabkan timbulnya perasaan iri hati dalam diri miss kecubung.
Kedua, para pemain teater berusaha keras untuk menunjukkan totalitasnya berteater meski harus menerabas segala batas-batas norma melayu. Menurut abang saya, disini pasangan melayu yang saling berpegangan tangan, berpelukan di depan umum menjadi hal yang tabu. Dalam opera primadona karya pendiri teater koma yang bersetting di Batavia era sebelum merdeka itu banyak sekali didapati akting yang mungkin dianggap fulgar. Termasuk pakaian penari yang terbuka, berkemben-ria. Terdengar suitan dari penonton yang menurut saya terkesan tidak menghargai dari esensi seni teater itu sendiri. Ketiga, setting dalam panggung yang berubah-ubah membuat cerita begitu dinamis. Keempat, make-up para pemain yang sangat tegas menunjukkan karakter dan kisaran umur mereka. Ada salah seorang mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama Titis. Ia memiliki keahlian untuk merias para pemain supaya nampak seperti peran yang dibawakan. Salut untuk Titis yang kali kemarin turut serta bermain di atas pentas. Dia telah berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa kita
. Kelima, ternyata apresiasi para penonton yakni orang Malaysia terhadap seni teater tidak terlalu heboh. Ini bisa dilihat dari setelah selesai acara mereka langsung saja beranjak pulang. Berbeda dengan yang terjadi di Jogja misalnya, selepas cerita usai biasanya kami memberikan selamat pada para pemain atau sekedar berfoto. Hal ini menurut bang Jamal disebabkan orang sini tidak begitu memandang baik profesi sebagai pekerja seni. Mereka tidak begitu mendapatkan tempat dalam hati masyarakat. Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UM dalam Opera primadona: dalam pertunjukan (bukan) hanya ada satu primadona. Kalianlah itu semua. Selamat berkarya kembali bila-bila masa :)
Kamar Flat, 15 November 2011


