Kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya menghadapi anak-anak. Mereka adalah santri TPA El-Nile yang belajar mengaji di taman baca di rumah. Biasanya Ibu yang akrab dipanggil bude oleh anak-anak akan mengajar setiap sore kecuali hari Rabu yang diliburkan karena rutinitas pengajian kampung. Senin lalu ibu bertolak ke Kuala Lumpur mendampingi bapak untuk suatu urusan. Baiklah, tongkat estafet tanggung jawab sosial ibu harus dilanjutkan oleh putrinya: Saya. Hari pertama tanpa Bude ada 11 prenyil (anak, red) yang dateng. Awalnya semua berjalan normal. Sampai ada satu prenyil –sebut saja sri kelas 5 SD- yang asyik baca komik ‘coz I love you’ daripada ngaji. Akhirnya saya menegurnya “ayoo..ngaji dulu bacanya dilanjutin nanti” si sri cuma mrengut aja sambil terus baca komik dengan cueknya. Prenyil yang lainnya ikutan gemes juga dengan polah sri trus ada yang nyeletuk “sri emang gitu mbak, katanya dia mengidap kejiwaan cinta” eeh…saya berusaha menahan gelak tawa sambil mengamati reaksi sri. Dia menepisnya sambil nyengir. Hyaaa…jangan- jangan lagi ikutan galau lagi. Akhirnya sri mau ngaji, ternyata dia masih kurang lancar mengeja rangkaian huruf hijaiyyah. Di akhir ngaji dia bertanya soal valentine. “mbak azzah nanti pas valentine mau tak kasih coklat gak? Tapi nanti kejutan ding jadi aku gak mau bilang bilang”. Lah katanya kejutan jadi ngapain ngomong duluan, batinku dalam hati. Saya menimpali “kalau dalam islam, tiap hari itu bisa disebut sebagai hari cinta gak perlu nunggu 14 februari. Tapi kalo mo ngasih coklat ke temen ya gak apa apa”. Mungkin sri berimajinasi tentang perayaan valentine yang ia baca di komik Jepang. Biarlah dia berproses mencari tau tentang kebenaran itu.
Hari kedua, ada 22 anak yang datang TPA. Woww, subhanallah…jumlah santri terbanyak yg pernah ada. Kisaran umur prenyil dari 4 tahun sampai 11 tahun. Saya sangat kewalahan menghadapi anak-anak itu. Saya meminta tolong pada 3 santri yang lebih senior dan lancar mengaji untuk mengajari anak yang masih belajar iqro’. Ada banyak kejadian nano-nano waktu itu: prenyil yang terkecil –sebut saja tito- ngambek meratap di bawah pohon kelapa gara-gara disuruh belajar nulis huruf hijaiyyah di buku. Tiba-tiba si tito ketemplokan ulet bulu. Langsung menjerit histeris. Untung ada embaknya, monika yang menenangkan tito untuk diam dan bilang kalo besok gak usah ikut lagi. Akhirnya tito berhasil tenang. Semoga tragedi ulet bulu ini tidak terulang. Saya khawatir kalau membuat trauma si prenyil. Musim hujan membuat ulet bulu beranakpinak secara pesat. Daun-daun tanaman koleksi ibu saya bolong-bolong di lahap si uler. Saya berinisiatif untuk menempel karya kaligrafi anak-anak di dinding TPA. Ditambah peta dunia yang diberikan seorang kawan dari Filipina. Menjadi kegembiraan buat saya melihat anak-anak yang asyik membaca koleksi buku taman baca el-nile. Di akhir pertemuan saya mendaulat prenyil-prenyil untuk mengenalkan diri masing masing. Melatih rasa percaya diri dan mengakrabkan satu sama lain. Hari ketiga, kamis kemarin. Langsung dari jogja saya disambut anak-anak yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka iba pada saya yang terlihat lelah dan berkata ” mbak azzah istirahat dulu aja, mandi, sholat sama minum. Kita disini sambil nungguin temen-teman yang lain dateng.” Saya terharu karena perhatian mereka. Selesai bersih- bersih diri saya siap untuk belajar bersama mereka. Ada 14 santri yang hadir. Setelah berdoa sebelum belajar saya memimpin untuk hafalan surat juz ‘amma hingga Al-Asr. Kemudian saya mengajari mereka bahasa. Topiknya yakni angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab, inggris, dan jerman . Mereka begitu antusias menerima pelajaran itu meski sebenarnya sangat sederhana. “Sampaikanlah ilmu walaupun hanya satu ayat…”itulah yang membuat saya semangat.
Homesweethomealone, 20 Januari 2012


ahahaha, hai prenyil prenyil…salam kenal <3
hellllooo tante ikaa, salam kenal kembali dari prenyil2. maen sini dong belajar sama2 biar pinter jg kaya mba ika:)
Alhamdulillah ternyata mba Azzah sangat kreatif, hal ini dibuktikan dengan berinsiatif untuk melanjutkan pekerjaan “Bude” ngajar ngaji , karena sedang menemani sang suami (Pakde) yang sedang ke Kuala Lumpur untuk suatu keperluan yaitu Ujian (Promosi) Doktor di salah satu Universitas tertua di Malaysia Universitas Malaya. Dan berkat doa semua anak-anak prenyil (santriwan/wati) TPA “El-Nile” dan keluarga, maka Tim Penguji memutuskan untuk memberi gelar PhD ( Philosofi Doktor) kepada Promovendus dengan ….. Dan karena Universiti Malaya mengikuti British System, maka semua birokrasi administrasinyapun ikut-ikut juga seperti di Inggris. Bude akhirnya harus absen ngajar mengaji untuk sementara waktu sampai urusan Pakdenya selesai…..selamat berkhidmah buat mba Azzah semoga semakin dewasa dan bertanggung jawab dalam rangka ikut mencerdaskan anak bangsa Amin…
hwaaa…popo lagi numpang curhat yah di blog azzah.hadeeeh…gak papa ding, yg penting sluman slumun slamet buat pop yg udah lulus.alhamdulillah…so proud of u being the greatest pop of the world ;D salam sayang dari prenyil2 sama ananda. hugs