Category: 4share


• Sastra merupakan kebutuhan batin, sebuah prakarsa yang istimewa
• You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.
• Love is work
• Cinta itu membebaskan. Dan kebanyakan orang selalu menanti saat jatuh cinta secara alami.

Melankolia

Jatuh cinta itu biasa saja

• Bahwa cinta sejati bukan dibangun setelah orang menikah, seperti pangkalnya cinta disebabkan oleh kebiasaan tapi diawali dalam perasaan sreg yang tiba-tiba jatuh pada pandangan pertama dan kemudian perasaan itu dipelihara dalam keberanian menyangkal diri terhadap orang yang dicintainya demi cintanya itu. Rasanya hakikat menyangkal diri ini merupakan inti pembelajaran insani yang paling pelik yang tidak sembarang orang sanggup, tapi yang segala orang ditantang untuk mampu yaitu bagaimana seseorang mau mengalah pada rasa pembenaran terhadapnya. Seraya meyakini dengan hati terbuka bahwa kebenaran manusia selalu berkadar sementara. Saat ajaib itu pasti muncul. Niscaya ada rahasia- rahasia waktu yang demikian akrab namun tak pernah bisa dipahaminya. Berapa gerangan jumlah waktu yang tersedia bagi seorang lelaki untuk menjadi manusia, sementara jawaban yang sahaja dapat dirasakan dalam cintanya. Darimana gerangan datangnya cinta kalau bukan mata turun ke hati?

 

KL, 22-11-’11

Minggu malam lalu, saya terhenyak ketika memasuki panggung eksperimen UM dan menyaksikan para pemain teater mengenakan baju kebaya. Perempuan Melayu, berkebaya a la perempuan Jawa? Karena saya dan abang Jamal datang terlambat, maka saya harus cepat menangkap alur cerita yang dimainkan oleh para mahasiswa UM. Ya, mulai dari tanggal 13-19 November 2011 UM menjadi tuan rumah perhelatan festival teater MAKUM 2011 (Majlis Kebudayaan Universiti-Universiti Malaysia). Saya sebagai salah seorang penikmat teater girang bukan kepalang ketika mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana mahasiswa Malaysia beradu teater di atas pentas.

Dengan bertajuk Opera Primadona diangkat dari karya Nano Riantiarno, pertunjukan malam itu begitu banyak kejutan. Pertama, mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia meski terkadang logat melayu itu muncul  sesekali. Oh ya, demikian sinopsis dari opera primadona yang diambil dari pamflet:

Naskhah yang telah diolah dan diadaptasikan semula ini mengangkat watak antagonis di dalam persembahan sebagai penggerak cerita. Tertumpu pada kisah kehidupan Sri panggung di pentas opera iaitu Miss Kecubung. Beliau mula melibatkan diri dengan kumpulan persembahan opera sejak berusia 15 tahun. Miss kecubung mempunyai latar belakang keluarga yang mempunyai darah seni. Kemunculan Siti Kejora di dalam kumpulannya tidak disenangi oleh miss kecubung. Ketika pertama kali beraksi, Siti Kejora mempunyai daya tarikan di atas pentas lakon dan seterusnya diberi peluang memegang peranan utama. Ini menyebabkan timbulnya perasaan iri hati dalam diri miss kecubung.

Magis...

Pemakaman Tuan Petro nan dramatis

Kedua, para pemain teater berusaha keras untuk menunjukkan totalitasnya berteater meski harus menerabas segala batas-batas norma melayu. Menurut abang saya, disini pasangan melayu yang saling berpegangan tangan, berpelukan di depan umum menjadi hal yang tabu. Dalam opera primadona karya pendiri teater koma yang bersetting di Batavia era sebelum merdeka itu banyak sekali didapati akting yang mungkin dianggap fulgar. Termasuk pakaian penari yang terbuka, berkemben-ria. Terdengar suitan dari penonton yang menurut saya terkesan tidak menghargai dari esensi seni teater itu sendiri. Ketiga, setting dalam panggung yang berubah-ubah membuat cerita begitu dinamis. Keempat, make-up para pemain yang sangat tegas menunjukkan karakter dan kisaran umur mereka. Ada salah seorang mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama Titis. Ia memiliki keahlian untuk merias para pemain supaya  nampak seperti peran yang dibawakan. Salut untuk Titis yang kali kemarin turut serta bermain di atas pentas. Dia telah berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa kita :) . Kelima, ternyata apresiasi para penonton yakni orang Malaysia terhadap seni teater tidak terlalu heboh. Ini bisa dilihat dari setelah selesai acara mereka langsung saja beranjak pulang. Berbeda dengan yang terjadi di Jogja misalnya, selepas cerita usai biasanya kami memberikan selamat pada para pemain atau sekedar berfoto. Hal ini menurut bang Jamal disebabkan orang sini tidak begitu memandang baik profesi sebagai pekerja seni. Mereka tidak begitu mendapatkan tempat dalam hati masyarakat. Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UM dalam Opera primadona: dalam pertunjukan (bukan) hanya ada satu primadona. Kalianlah itu semua. Selamat berkarya kembali bila-bila masa  :)

Stelah pementasan

Mejeng bareng pemain dan anak2 students ex-change dari UI

Kamar Flat, 15 November 2011

mejeng di depan ikon jerman termasyhur

alhamdulillah...Ich liebe deutschland

> matanya merem saking ksenengan:) (10 juni 2007)

bersama pop,mom,kak fatiha,abang fathi

hari kedua ramadhan 2010

> taraweh di masjid wilayah kuala lumpur ,penuh syukur:) (12 Agustus 2010)

jalan2 bareng risti

depan merlion yang ga bosen2nya nyemburin aer;p

>menghibur diri, stelah ditipu tukang becak dari stasiun ke landmark ditodong 30 dolar S’pore. it means 180 rebu_ngamal dah;p (29juli2010)

iswi 2007

Opening International Student Week in Ilmenau, Germany 2007

>cuilik2 yo wonge, hehe. beragam bentuk manusia lengkap disini:) (2Juni 2007)

tempat numpang laer;p

my family and spinx...

>jaman cleopatra masi kecil dikuncir (pake jaket ijo:) (25 Desember 1991)

Potret ini dipajang bukan untuk pamer sama sekali, tapiii hanya ingin berbagi tentang moment yang pernah dilalui bersama orang yang saya kasihi, sembah nuwun Gusti….

 

Gg.Kamboja1, 13 Jan ’11

Sabtu, 20 November 2010
Posko terjauh yang kami tuju hari ini bertempat di balai desa Gantang, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. 12 km dari puncak merapi. Sepanjang perjalanan menuju ke lokasi abu tebal masih sangat mengakrabi lingkungan sekitar. Pepohonan begitu jamak ditemui dalm kondisi lunglai. Kurang lebih 26 KK atau 114 jiwa bernaung di balai desa Gantang yang luasnya sekitar 15×10 meter.

jalan menuju lokasi

Ketika kami datang jelang sore, ada puluhan anak tengah asyik bermain di halaman balai desa. Saat itu pula terdapat mobil puskesmas keliling dari kabupaten Sukoharjo Solo yang siap sedia menolong pengungsi yang sakit atau memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. Tampak anak yang digendong ibunya membawa minyak telon pemberian petugas kesehatan sembari berujar,”bareng-bareng yo le…ojo rebutan sesuk dike’i meneh ”. Seorang nenek berusia 80 tahun-an berjalan tertatih membawa seplastik kecil obat entah jenis apa sembari mengeluh “awakku lagi ra kepenak tenan je”. Lebih dari 2 minggu mereka meninggalkan desanya yakni dusun Babadan yang berjarak 5 km dari puncak merapi. “rasane kok yo suwi tenan” ungkap ibu wanti yang mengaku menyempatkan diri bersama suaminya setiap pagi hari untuk tindak ngerumput ke asal desanya demi memberi makan hewan ternak sapi yang tinggal semata wayang. “sapi kulo jane ki loro, tapi sing setunggil mati kebrukan wit mergo kabotan awu”. Tatapan ibu yang mempunyai 2 anak itu kosong menerawang sembari menggigit bibirnya. Getir. Rumput pakan sapi di dapat dari ladang tempat sekitar pengungsian yang diberikan oleh penduduk setempat dengan kondisi berabu meski tak separah di dusun babadan dimana semua areal pertanian, perkebunan luluh lantak terkena bahan material muntahan merapi. Rumput tersebut harus dicuci terlebih dahulu agar sapi tidak mati. Selepas jam 10.00 pagi ibu wanti kembali ke lokasi pengungsian dengan mengendarai motornya. Seperti kondisi rumah para korban letusan merapi yang lainnya, rumah keluarga ibu wanti di desa Babadan sangat memperihatinkan. Abu tebal masih melekat kuat di setiap sendinya. Hingga kini aliran listrik dan air belum ada. Oleh karenanya mengungsi menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.Beruntung warga sekitar di balai desa Gantang bahu membahu meringankan beban para pengungsi dengan mengirimkan logistik atau sekedar berbagi fasilitas kamar mandi di rumah-rumah warga, dimana wc umum sangat terbatas di balai desa. Dapur umum di kelola sendiri oleh ibu-ibu pengungsi. “hiburane ki yo mung masak mbak..ora ono liyane”. Seorang ibu muda, Nani yang berusia berkisar 20 tahun tak dapat berkata apa-apa ketika anaknya merengek ”bu..ayo tuku jajan ning warung kono”. Tentu saja kondisi keuangan para keluarga korban merapi menderita pailit secara bersamaan. Akibat dari lahan pertanian yang tidak lagi dapat digantungkan. Setiap hari para korban melambungkan harapan supaya gunung merapi tidak bergolak lagi. Meski hingga kini tidak ada kata pasti kapan mereka dapat hidup normal kembali.

Aksi Relawan FSG Tunas Bangsa

Beberapa menit lepas dari jam 8 pagi pada hari minggu saya menyempatkan diri untuk berkegiatan bersama teman- teman FSG Tunas Bangsa di Rumah Sakit Sardjito. FSG adalah singkatan dari family supporting group. Tunas Bangsa adalah filosofi dari anak- anak yang merupakan tunas bangsa negeri ini. Kegiatan utama komunitas  FSG Tunas Bangsa yakni manghibur anak- anak yang terserang penyakit kanker dan kelainan darah secara keturunan. Singkat cerita, anak- anak yang usianya berkisar antara 1 tahun- 12 tahun itu telah di vonis oleh dokter bahwa mereka tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Kami disini memiliki kesamaan visi untuk saling berbagi kepada anak- anak tersebut.

Banyak kegiatan diselenggarakan tiap akhir pekan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya seperti bercerita, menyanyi bersama, menonton film, membuat hasta karya. Pada pekan lalu kita membuat miniatur rumah yang terbuat dari kertas sedangkan pekan sebelumnya membuat piggy bank dengan menggunaan botol aqua bekas.

Bingkisan buat adik-adik dari sponsor

Semua bersuka cita, meski memendam duka

Berikut penggalan episode suatu ketika di Sardjito:

Pagi yang lengang di rumah sakit Sardjito seketika riuh di ruangan Nuri dimana sekelompok anak dan para relawan bersama sama menyanyikan lagu pembuka yang berjudul hoki poki. Begini bunyinya:

Tangan kanan ke depan

Tangan kiri ke depan

Kedua tangan ke depan

Dan digoyang- goyangkan

Kita menari hoki- poki (2x)

Di goyang- goyang

Cerah, seorang anak perempuan dengan rambut  yang tinggal beberapa helai dengan semangat turut bernyanyi dang menggoyang-goyangkan anggota badannya meski selang infus menghiasi tangan kanannya. Kurang lebih satu jam dari jam 09.00 hingga jam 10.00 pagi setiap hari minggu para relawan berkegiatan bersama dengan adik-adik itu. Jika ditanya apa motivasi para relawan mengikuti komunitas FSG Tunas Bangsa ini, salah seorang relawan yang bernama Jalu menjawab:

“Saya hanya ingin beribadah, lewat berbagi dengan anak- anak itu”.

Tio pun menimpali:

“Justru saya yang butuh hiburan dari penatnya bekerja selama 6 hari di kantor kemudian di akhir pekan meluangkan waktu dengan bermain bersama adek-adek di Sardjito ini. Sungguh menghibur.”

Adapun latar belakang para relawan FSG sangat beragam, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja seni, pekerja lembaga swadaya masyarakat, BUMN. Asal daerah kami pun berbeda- beda, ada yang dari Flores, beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Bahkan ada 1 relawan yang bolak- balik Surabaya- Jogja setiap dua pekan sekali untuk mengikuti kegiatan FSG ini. Jumlah relawan hingga saat ini berkisar 20 orang. Senyum yang tercipta dari anak- anak itu adalah salah satu alasan yang membuat para relawan bertahan.

Di sela-sela aksi, para relawan mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu favorite mereka:

Ini jari jempol, namanya jari jempol, apa kata jari jempol anak sekolah tidak boleh ngompol.

Ini jari telunjuk, namanya jari telunjuk, apa kata jari telunjuk anak sekolah tidak boleh ngantuk.

Ini jari tengah, namanya jari tengah, apa kata jari tengah anak sekolah tidak boleh lengah

Ini jari manis, namanya jari manis, apa kata jari manis anak sekolah tidak boleh nangis

Ini jari kelingking, namanya jari kelingking, apa kata jari kelingking anak sekolah tidak boleh pusing.

Derai tawa disertai tepuk tangan tercipta setelah lagu tersebut selesai. Mungkin lagu ini menjadi obat rindu anak- anak pada bangku sekolah yang sudah lama mereka tinggalkan karena penyakit yang dideritanya yang mengakibatkan harus “pindah rumah” selama beberapa bulan ke Rumah Sakit Sardjito.

Aksi FSG

Wayang FSG beraksi


Jika ditelisik lebih dalam, FSG Tunas Bangsa menggunakan prinsip filantropi. Asumsi ini memang tidak sederhana. Dalam penelitian Seligman, seorang pakar psikologi,  membuktikan, bahwa afterglow (baca: kebahagiaan) akan dirasakan lebih dahsyat pada saat individu mencurahkan energinya misalnya dengan membacakan dongeng anak-anak yang menderita kanker daripada bersantai mengahabiskan waktu libur dengan menonton bioskop. Dalam ungkapan lain, pengalaman sensasional  lebih potensial diperoleh saat manusia melakukan aktivitas berorientasi filantropi.

Masalah filantropi relevan ditarik ke pelataran hidup berbangsa. Berbagai kebijakan nasional telah dihasilkan dengan pertimbangan demi kepentingan anak−anak Ibu Pertiwi. Pertanyaan introspektif, seberapa besar kemaslahatan yang telah dihasilkan lewat itu semua? Anak-anak yang tertawa gembira di balik rasa sakitnya serta ibu-ibu yang dengan setia menunggui mereka hingga berbulan-bulan lamanya, adalah sebagian jawabannya.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 84 pengikut lainnya.