Archive for Januari, 2012


Seize The Day

Jalani hari-harimu semaksimal mungkin Dapatkan yang terbaik dari tiap jam, tiap hari dan tiap umur hidupmu Lalu kamu bisa menatap ke depan dengan penuh percaya diri Dan menoleh ke belakang tanpa rasa sesal Jadilah dirimu sendiri-namun dirimu yang terbaik Beranilah tampil beda dan ikuti bintangmu sendiri Jangan takut merasa bahagia Nikmati segala keindahan Cintailah seluruh jiwa ragamu Dan yakinlah bahwa orang-orang yang kamu cintai juga mencintaimu Lupakan kebaikan yang pernah kau lakukan pada teman-temanmu Dan ingat selalu kebaikan-kebaikan mereka Abaikan utang dunia padamu Dan sebaliknya berkonsentrasilah pada utangmu pada dunia Bila kamu dihadapkan pada suatu keputusan, buatlah sebijaksana mungkin Lalu lupakan Kebenaran absolut tidak pernah benar-benar ada Di atas segalanya ingatlah bahwa Tuhan menurunkan pertolongan kepada mereka yang mau membantu diri sendiri Berbuatlah seakan semuanya bergantung padamu, dan berdoalah sebab semuanya bergantung pada Tuhan. []

Iklan

Kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya menghadapi anak-anak. Mereka adalah santri TPA El-Nile yang belajar mengaji di taman baca di rumah. Biasanya Ibu yang akrab dipanggil bude oleh anak-anak akan mengajar setiap sore kecuali hari Rabu yang diliburkan karena rutinitas pengajian kampung. Senin lalu ibu bertolak ke Kuala Lumpur mendampingi bapak untuk suatu urusan. Baiklah, tongkat estafet tanggung jawab sosial ibu harus dilanjutkan oleh putrinya: Saya. Hari pertama tanpa Bude ada 11 prenyil (anak, red) yang dateng. Awalnya semua berjalan normal. Sampai ada satu prenyil –sebut saja sri kelas 5 SD- yang asyik baca komik ‘coz I love you’ daripada ngaji. Akhirnya saya menegurnya “ayoo..ngaji dulu bacanya dilanjutin nanti” si sri cuma mrengut aja sambil terus baca komik dengan cueknya. Prenyil yang lainnya ikutan gemes juga dengan polah sri trus ada yang nyeletuk “sri emang gitu mbak, katanya dia mengidap kejiwaan cinta” eeh…saya berusaha menahan gelak tawa sambil mengamati reaksi sri. Dia menepisnya sambil nyengir. Hyaaa…jangan- jangan lagi ikutan galau lagi. Akhirnya sri mau ngaji, ternyata dia masih kurang lancar mengeja rangkaian huruf hijaiyyah. Di akhir ngaji dia bertanya soal valentine. “mbak azzah nanti pas valentine mau tak kasih coklat gak? Tapi nanti kejutan ding jadi aku gak mau bilang bilang”. Lah katanya kejutan jadi ngapain ngomong duluan, batinku dalam hati. Saya menimpali “kalau dalam islam, tiap hari itu bisa disebut sebagai hari cinta gak perlu nunggu 14 februari. Tapi kalo mo ngasih coklat ke temen ya gak apa apa”. Mungkin sri berimajinasi tentang perayaan valentine yang ia baca di komik Jepang. Biarlah dia berproses mencari tau tentang kebenaran itu.

mari sholawatan

bergembira bersama

Hari kedua, ada 22 anak yang datang TPA. Woww, subhanallah…jumlah santri terbanyak yg pernah ada. Kisaran umur prenyil dari 4 tahun sampai 11 tahun. Saya sangat kewalahan menghadapi anak-anak itu. Saya meminta tolong pada 3 santri yang lebih senior dan lancar mengaji untuk mengajari anak yang masih belajar iqro’. Ada banyak kejadian nano-nano waktu itu: prenyil yang terkecil –sebut saja tito- ngambek meratap di bawah pohon kelapa gara-gara disuruh belajar nulis huruf hijaiyyah di buku. Tiba-tiba  si tito ketemplokan ulet bulu. Langsung menjerit histeris. Untung ada embaknya, monika yang menenangkan tito untuk diam dan bilang kalo besok gak usah ikut lagi. Akhirnya tito berhasil tenang. Semoga tragedi ulet bulu ini tidak terulang. Saya khawatir kalau membuat trauma si prenyil. Musim hujan membuat ulet bulu beranakpinak secara pesat. Daun-daun tanaman koleksi ibu saya bolong-bolong di lahap si uler. Saya berinisiatif untuk menempel karya kaligrafi anak-anak di dinding TPA. Ditambah peta dunia yang diberikan seorang kawan dari Filipina. Menjadi kegembiraan buat saya melihat anak-anak yang asyik membaca koleksi buku taman baca el-nile.  Di akhir pertemuan saya mendaulat prenyil-prenyil untuk mengenalkan diri masing masing. Melatih rasa percaya diri dan mengakrabkan satu sama lain. Hari ketiga, kamis kemarin. Langsung dari jogja saya disambut anak-anak yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka iba pada saya yang terlihat lelah dan berkata ” mbak azzah istirahat dulu aja, mandi, sholat  sama minum. Kita disini sambil nungguin temen-teman yang lain dateng.”  Saya terharu karena perhatian mereka. Selesai bersih- bersih diri saya siap untuk belajar bersama mereka. Ada 14 santri yang hadir. Setelah berdoa sebelum belajar saya memimpin untuk hafalan surat juz ‘amma hingga Al-Asr. Kemudian saya mengajari mereka bahasa. Topiknya yakni angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab, inggris, dan jerman . Mereka begitu antusias menerima pelajaran itu meski sebenarnya sangat sederhana.  “Sampaikanlah ilmu walaupun hanya satu ayat…”itulah yang membuat saya semangat.

Homesweethomealone, 20 Januari 2012