Category: 4share


wati and warsi;)

poto yg diambil habis kondangan sang cupid kita, anis kristiani.

Allohaaa…stelah sekian abad bertapa akhirnyaaa kembali lagi ke rumah maya. Horeee…banyak yg berubah dariku. Soal status baru sebagai isteri *cihuuy dan insya Allah sekitar 6 bulan mendatang menjadi seorang ibu. Amiiin:). Subhanallah wal hamdulillah skenario Sang Maha Sutradara Gusti Alloh yang maha bijaksana sungguh mempesona. Decak kagum dan rasa syukur yang tiada henti membuat saya makin haqqul yaqin bahwa Allah akan slalu memberikan yang terbaik buat hambaNya. Jangan pernah sekali-kali berburuk sangka padaNya sebab kita tak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi nanti *lhoo kok jadi nyaingin mamah dedeh yak:p

Daaan mendapatkan pasangan hidup yang ekstra sabaaar (ususnya panjaaang,kalo diulur bisa dari concat sampe janti kalii;) merupakan anugerah yang tiada duanya. Belum lagi sifat kita yg sering bertolak belakang tapi sekaligus melengkapi. Misal, sy sangat ahli makan sedang mas warsito (oiya, itu nama suami sy. Eheem:) ahli masak. Banyak yang memuji keahliannya apalagi saia. Hahaa. Alloh sungguh maha adil yaa. Thanks oh my Lord:)

Ada beberapa kebiasaan kita yg sungguh so sweet stelah menikah *bukan mo pamer lho tapi buat crita aja. Sering kali mas warsito sepulang dari masjid dan melintasi kebon tetangga sbelah yg punya pohon melati atau liat pot melati kita berkembang mewangi pasti kakanda akan memetiknya beberapa dan dipersembahkan untuk adinda. Ya, saia! Mungkin mas bojo sangat terinspirasi oleh coretan terlampau sy yg berjudul “segenggam cinta melati”. Sy dibuat mesam-mesem kesengsem olehnya:)). Sederhana tapi mengena. Kebiasaan lain tiap habis shubuh kita baca ma’tsurat bareng meski lebih sering sy bacanya sambil merem xD. Baca dzikir ma’tsurat segambreng manfaatnya yg jelas bisa jadi benteng buat diri kita. Keluarga kita.

Nah, tentu saja banyak pe-er yg mesti banyak sy pelajari berkaca dari pengalaman mompop,simbok dan kluarga2 kawan2 smua demi terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah guyub rukun adil makmur kertorahardjo edi peni santoso…:D Amiin ya mujiibassalim.

Di sela2 mburuh, hari soempah pemoeda 2013.

Iklan

Suatu pagi di akhir pekan yang cerah bapak menyapu jalan di depan rumah. Saya menyapu bagian dalam dan Ibu memasak sarapan spesial untuk kami santap bersama. Betapa saya sangat bersyukur tumbuh dan besar di keluarga yang penuh dengan kehangatan. Kami terbiasa untuk mengekspresikan rasa sayang secara langsung berupa pelukan dan ciuman manis di pipi, jidat bahkan ketiak yang aromanya terasa magis. Setelah menyelesaikan tugas “negara” saya leyeh-leyeh di ruang tamu sambil membaca koran lama. Seketika ibu datang sambil membawakan teh tarik hangat favorit keluarga kami dan sepiring tempe goreng. So yummy. Bapak yang sudah rampung menyapu langsung bergabung bersama kami sambil membawakan sesuatu untuk ibu. Nah, apakah itu? Bapak menggenggam puluhan melati putih yang dipetik langsung dari depan rumah. Sambil diserahkan kepada ibu, bapak berkata ”… ku persembahkan cinta melati untukmu istriku sayang” sejurus kemudian ibu menyambutnya dengan ciuman di hidung dan pipi bapak dan menjawab “…. makasih suamiku…”. Wah wah saya sebagai anak langsung cengar cengir riang menyaksikan langsung adegan romantis bak telenovela Cassandra. Ah, Guilermo.. (sopo meneh iku? :D) lantas bunga melati itu seperti hari-hari sebelumnya ditaruh di atas tempat tidur bapak ibuk yang biasa ku sebut dengan bes tumpuk. Saking tebel dan kerasnya tuh kapuk. Bapak yang hampir berkepala enam tahun depan (amiin) merupakan ayah yang paling demokratis dan egaliter sedunia. Beliau membebaskan putra putrinya untuk mengekspresikan gayanya masing-masing dalam berinteraksi dengan beliau. Saya bisa memanggil beliau dengan sebutan pop maripop, pak’e tole, romo, abi, pak tung2, bapak tua bahkan pak botak. Belakangan terkadang di tambah dengan embel2 doktor (beliau alhamdulillah berhasil di wisuda pertama dalam hidup beliau di Universiti of Malaya tanggal 1 Oktober 2012 lalu). Sedari bayi saya selalu suka berlindung di bawah ketiak bapak, bahkan sampai sekarang pun suka kangen dengan “kesedapannya”. Kami memang banyak persamaan perihal kebiasaan. Sama-sama suka baca, suka tidur dan berpetualang kemana-mana. Ketiga anaknya dipersilahkan untuk sekolah setinggi2nya meski masih ditanggung oleh BPPS (beasiswa papah sendiri). Ibu adalah sosok multi talenta di balik kesuksesan bapak. Beliau sukarela untuk menjadi ibu rumah tangga meski memiliki ijazah sarjana muda setingkat dengan D3. Ibu terampil melakukan apapun, dari menjahit hingga memanjat gendeng kalo bocor. Sekarang ibu yang biasa saya sapa mom punya rutinitas setiap sore mengajar ngaji dengan sabar anak-anak TPA El-Nile dan kalau malam gantian ibu-ibu tetangga yang mengeja huruf hijaiyyah mumpung masih diberikan nikmat sehat. Ibu selalu berpesan tanpa pernah bosan mengingatkan secara langsung atau lewat telepon tiap pagi, “…sayang gunakan waktu sebaik mungkin, yang sudah-sudah, ke depan harus lebih baik lagi jangan sampai merugi, selalu berdoa supaya menjadi orang yang beruntung, terutama soal jodoh, mudah2an mendapat pasangan dan mertua terbaik…”. Berilah kesempatan hamba untuk membahagiakan kedua orang tua dengan mewujudkan mimpi kami Gusti. Semoga Allah swt memberikan rahmat yang melimpah dan umur panjang yang bermanfaat pada keluarga kami supaya kelak kami dapat dipertemukan kembali di akhirat nanti. Allahumma amin 
Jetisharjo, 23 Oktober 2012 (23.09)

• Sastra merupakan kebutuhan batin, sebuah prakarsa yang istimewa
• You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.
• Love is work
• Cinta itu membebaskan. Dan kebanyakan orang selalu menanti saat jatuh cinta secara alami.

Melankolia

Jatuh cinta itu biasa saja

• Bahwa cinta sejati bukan dibangun setelah orang menikah, seperti pangkalnya cinta disebabkan oleh kebiasaan tapi diawali dalam perasaan sreg yang tiba-tiba jatuh pada pandangan pertama dan kemudian perasaan itu dipelihara dalam keberanian menyangkal diri terhadap orang yang dicintainya demi cintanya itu. Rasanya hakikat menyangkal diri ini merupakan inti pembelajaran insani yang paling pelik yang tidak sembarang orang sanggup, tapi yang segala orang ditantang untuk mampu yaitu bagaimana seseorang mau mengalah pada rasa pembenaran terhadapnya. Seraya meyakini dengan hati terbuka bahwa kebenaran manusia selalu berkadar sementara. Saat ajaib itu pasti muncul. Niscaya ada rahasia- rahasia waktu yang demikian akrab namun tak pernah bisa dipahaminya. Berapa gerangan jumlah waktu yang tersedia bagi seorang lelaki untuk menjadi manusia, sementara jawaban yang sahaja dapat dirasakan dalam cintanya. Darimana gerangan datangnya cinta kalau bukan mata turun ke hati?

 

KL, 22-11-’11

Minggu malam lalu, saya terhenyak ketika memasuki panggung eksperimen UM dan menyaksikan para pemain teater mengenakan baju kebaya. Perempuan Melayu, berkebaya a la perempuan Jawa? Karena saya dan abang Jamal datang terlambat, maka saya harus cepat menangkap alur cerita yang dimainkan oleh para mahasiswa UM. Ya, mulai dari tanggal 13-19 November 2011 UM menjadi tuan rumah perhelatan festival teater MAKUM 2011 (Majlis Kebudayaan Universiti-Universiti Malaysia). Saya sebagai salah seorang penikmat teater girang bukan kepalang ketika mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana mahasiswa Malaysia beradu teater di atas pentas.

Dengan bertajuk Opera Primadona diangkat dari karya Nano Riantiarno, pertunjukan malam itu begitu banyak kejutan. Pertama, mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia meski terkadang logat melayu itu muncul  sesekali. Oh ya, demikian sinopsis dari opera primadona yang diambil dari pamflet:

Naskhah yang telah diolah dan diadaptasikan semula ini mengangkat watak antagonis di dalam persembahan sebagai penggerak cerita. Tertumpu pada kisah kehidupan Sri panggung di pentas opera iaitu Miss Kecubung. Beliau mula melibatkan diri dengan kumpulan persembahan opera sejak berusia 15 tahun. Miss kecubung mempunyai latar belakang keluarga yang mempunyai darah seni. Kemunculan Siti Kejora di dalam kumpulannya tidak disenangi oleh miss kecubung. Ketika pertama kali beraksi, Siti Kejora mempunyai daya tarikan di atas pentas lakon dan seterusnya diberi peluang memegang peranan utama. Ini menyebabkan timbulnya perasaan iri hati dalam diri miss kecubung.

Magis...

Pemakaman Tuan Petro nan dramatis

Kedua, para pemain teater berusaha keras untuk menunjukkan totalitasnya berteater meski harus menerabas segala batas-batas norma melayu. Menurut abang saya, disini pasangan melayu yang saling berpegangan tangan, berpelukan di depan umum menjadi hal yang tabu. Dalam opera primadona karya pendiri teater koma yang bersetting di Batavia era sebelum merdeka itu banyak sekali didapati akting yang mungkin dianggap fulgar. Termasuk pakaian penari yang terbuka, berkemben-ria. Terdengar suitan dari penonton yang menurut saya terkesan tidak menghargai dari esensi seni teater itu sendiri. Ketiga, setting dalam panggung yang berubah-ubah membuat cerita begitu dinamis. Keempat, make-up para pemain yang sangat tegas menunjukkan karakter dan kisaran umur mereka. Ada salah seorang mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama Titis. Ia memiliki keahlian untuk merias para pemain supaya  nampak seperti peran yang dibawakan. Salut untuk Titis yang kali kemarin turut serta bermain di atas pentas. Dia telah berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa kita :). Kelima, ternyata apresiasi para penonton yakni orang Malaysia terhadap seni teater tidak terlalu heboh. Ini bisa dilihat dari setelah selesai acara mereka langsung saja beranjak pulang. Berbeda dengan yang terjadi di Jogja misalnya, selepas cerita usai biasanya kami memberikan selamat pada para pemain atau sekedar berfoto. Hal ini menurut bang Jamal disebabkan orang sini tidak begitu memandang baik profesi sebagai pekerja seni. Mereka tidak begitu mendapatkan tempat dalam hati masyarakat. Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UM dalam Opera primadona: dalam pertunjukan (bukan) hanya ada satu primadona. Kalianlah itu semua. Selamat berkarya kembali bila-bila masa  🙂

Stelah pementasan

Mejeng bareng pemain dan anak2 students ex-change dari UI

Kamar Flat, 15 November 2011

mejeng di depan ikon jerman termasyhur

alhamdulillah...Ich liebe deutschland

> matanya merem saking ksenengan:) (10 juni 2007)

bersama pop,mom,kak fatiha,abang fathi

hari kedua ramadhan 2010

> taraweh di masjid wilayah kuala lumpur ,penuh syukur:) (12 Agustus 2010)

jalan2 bareng risti

depan merlion yang ga bosen2nya nyemburin aer;p

>menghibur diri, stelah ditipu tukang becak dari stasiun ke landmark ditodong 30 dolar S’pore. it means 180 rebu_ngamal dah;p (29juli2010)

iswi 2007

Opening International Student Week in Ilmenau, Germany 2007

>cuilik2 yo wonge, hehe. beragam bentuk manusia lengkap disini:) (2Juni 2007)

tempat numpang laer;p

my family and spinx...

>jaman cleopatra masi kecil dikuncir (pake jaket ijo:) (25 Desember 1991)

Potret ini dipajang bukan untuk pamer sama sekali, tapiii hanya ingin berbagi tentang moment yang pernah dilalui bersama orang yang saya kasihi, sembah nuwun Gusti….

 

Gg.Kamboja1, 13 Jan ’11