Category: buku sip


Woman is a ray of GOD. She is not just the earthly beloved; she is creative, not created (Rumi)

Malam itu kala medio bulan Juli 2007 di Bandara soekarno hatta, pesawat emirates yang menerbangkan kami dari Dubai-Jakarta mendarat dengan sempurna. Para penumpang –termasuk saya- dan puluhan tenaga kerja wanita (TKW) bergegas mengurus segala administrasi dan tetek bengeknya sebelum keluar bandara. Menjelang pintu keluar seorang ibu setengah baya berseragam biru berjalan ke arah saya dan  menanyakan  mana paspor saya. Rasa curiga muncul ketika kawan saya yang tidak berjilbab tidak turut serta ditanyai. Hanya saya –yang berjilbab- dan puluhan para TKW yang saat itu menggunakan jilbab juga dipaksa mengeluarkan paspornya. Dengan tegas saya menolaknya, tetapi ibu itu tetap bersikeras hingga akhirnya ada rekan kerjanya yang nyeletuk..”bukan…dia pelajar”. Akhirnya ibu itu dengan cepat menghindari saya tanpa meminta maaf dan mencari ”mangsa” lainnya. Selidik punya selidik, ternyata pemandangan seperti itu sangat jamak terjadi di bandara kedatangan internasional Soetta. Dengan dalih melihat paspor kemudian para “oknum” petugas bandara menjebak para TKI/TKW untuk menukar uang (valas) hasil memeras keringatnya di Negara seberang dan kemudian di”sunat” tanpa tedeng aling-aling.  Mereka tidak berdaya ketika digiring dan diperas uangnya. Agaknya para oknum tersebut sangat kompak untuk mengerjai para TKI. Padahal saat itu kebanyakan TKW yang satu perjalanan dengan saya adalah TKW yang dideportasi karena bermasalah di Negara tempatnya mencari nafkah. Para TKW yang notabene dandanannya mencolok, berjilbab, berbaju ketat, memakai alas kaki high heels, terkadang rambutnya disemir a la bule dan tentengan beragam belanjaan oleh-oleh khas luar negeri,  akan dengan sangat mudah dikenali jika mereka para pahlawan devisa pun tanpa melihat langsung identitasnya. Bayangkan saja setiap hari sedikitnya 1.000 TKW datang. Para oknum rata-rata berhasil merampas, hanya 5 hingga 30 orang yang menjadi TKI bermasalah, berapa uang yang dibawa mereka. Mereka seperti ATM berjalan. Belum lagi “jebakan” di luar bandara seperti para supir jemputan tidak resmi yang akan dengan brutal memberi tarif tinggi para TKI yang ingin cepat-cepat sampai ke kampung halamannya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Dari sepenggal ceritera di atas dapat direfleksikan ke dalam tiga hal. Pertama, mengenai identitas jilbab merujuk pada tulisan Heru Prasetia[1] tentang jilbab men­deskripsikan politik identitas yang tidak bertolak pada spasial maupun teritorial. Jilbab mempunyai identitas global karena uru­tan historis dan geografis dengan asal-usul Islam di Jazirah Arab. Selain itu, Jilbab lebih dari sekadar cita rasa berbusana religius. Jilbab terkadang tampil sebagai simbol ideologis dari suatu komunitas tertentu, menjadi fenomena bagi suatu lapisan elit sosial, menjadi simbol segregasi jender, menjadi simbol komunitas patriarki, menjadi simbol “keterbatasan” peran wanita, dan  lain-lain. Jilbab adalah sebuah fenomena majemuk, memiliki tingkat-tingkat makna dan beragam konteks. Persoalan jilbab tak lagi wajib-mubah, haram-halal, etis-tidak etis. Ia menyiratkan simbol sarat makna dan kepentingan, tergantung siapa pemakainya. Pakaian itu sendiri mempunyai pemaknaan yang berubah-ubah sejalan dengan waktu dan ruang.Contoh sederhana, pakaian yang saya kenakan sewaktu di bandara yang menyebabkan ibu “oknum” menduga saya TKW pula. Dapat dikatakan bahwa stereotype perempuan yang berjilbab diidentikkan dengan TKW. Betapa oknum tersebut berlaku sangat diskriminatif. Kedua, mengenai perilaku konsumsi buruh perempuan berkiblat pada tulisan Yulianti Riswan[2] dimana Bu Carik, sebutan tokoh perempuan buruh migran dalam tulisan itu, diceriterakan se­bagai pembawa oleh-oleh uang dan pengetahuan ‘dari luar negeri’ sekembali ke desanya. Pengetahuan yang digambarkan itu me­liputi bervariasinya pengolahan menu makanan dan kosmetika ‘berkelas’ global. Tilly dan Scott (1987) mengatakan dua pem­belajaran yang signifikan dialami oleh perempuan kerja upahan adalah: (1) pembelajaran tentang bagaimana membelanjakan uang dan untuk membeli apa; (2) perhitungan atas alokasi upah yang diserahkan kepada keluarga sebagai aset.. Kebutuhan terhadap buruh perempuan yang meningkat, ditumpuk dengan persoalan pengangguran lelaki, involusi per­tanian, kemiskinan, dan seterusnya menggeser Desa Jangkaran yang semula menyediakan lahan pertanian produktif untuk ke­butuhan warganya bergeser sebagai desa penyedia buruh tenaga kerja murah yang siap dikirim ke luar negeri. Buruh-buruh perem­puan yang dikirim desa-desa senasib Jangkaran jumlahnya terus meningkat. Bahkan angka resmi dari departemen tenaga kerja dan departemen luar negeri, menyatakan bahwa jumlah pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai 6.732.942, den­gan pertumbuhan para pekerja baru ke luar negeri mencapai 4% pertahun. Para buruh perempuan ini ter­cerabut dari lokasinya (deteritorialisasi) dan terus mengambang dalam lintasan globalisasi. Ketiga, tidak adanya peran perlindungan oleh Negara yang cukup pada para buruh migran pada kasus kecil di pintu kedatangan internasional bandara Soetta (stateless). Fenomena kecil yang sangat merugikan dan terus berulang ini agaknya dibiarkan terjadi begitu saja tanpa ada penanganan yang serius oleh pemerintah, belum lagi persoalan lain seperti tindak kekerasan terhadap buruh migran perempuan oleh majikannya di Negara tujuan TKW yang mengakibatkan beberapa dari mereka bahkan hingga terenggut nyawanya atau kondisi cacat fisik maupun mental yang begitu memprihatinkan.

Dengan tanpa mengesampingkan tulisan lain yang ada dalam buku Identitas Perempuan Indonesia: Status, Pergeseran Gender dan Perjuangan Ekonomi Politik ini pada dasarnya -sepemahaman saya- semua tulisan memposisikan perempuan yang dikepung oleh konstalasi global, negara, masyarakat dan lingkup keluarga. Kedudukan ini mengakibatkan seorang perempuan harus memainkan peranan yang tidak gampang (multiroles). Mengamini pernyataan Ruth Indiah[3] perempuan, keluarga, kerja upahan, spasial, identitas, resistensi (politik identitas) merupakan kategori analisis yang terapung-apung dalam globalisasi dan demokrasi, dan menan­tang untuk dikaji ulang.


[1] Pakaian, Gaya, dan Identitas Perempuan Islam

 

[2] Bu Carik dan Pak Carik: Autonomy and The Creation of Fluid Patriarchy in Jangkaran, Kulon Progo, Yogyakarta

 

[3] Deteritorialisasi Keluarga dan Artikulasi identitas Perempuan

 

Tentang cinta dan sebagainya…
…Apakah semakin dewasa manusia cenderung menjadi semakin tidak positif? Aku belajar berjiwa besar berusaha memahami esensi konsep virtual dan fisik dalam hubungan emosional. Bukankah jika mencintai seseorang kita harus membiarkan ia bebas?…hal.336
….berapa jumlah pasangan yang telah mengalami cinta pertama, lalu hanya memiliki satu cinta itu dalam hidupnya, menikah dan kemudian hanya terpisahkan karena Tuhan memanggil salah satu dari mereka? Sedikit sekali! Ataulah mungkin tidak ada! Sepertinya kedua jawaban tersebut menjadi hipotesis yang meyakinkan utnuk pertanyaan dangkal semacam itu. Karena itulah yang umumnya terjadi dalam dunia nyata.
…..cinta pertama memang tak kan pernah mati, tapi ia juga tak kan pernah survive…cinta pernah indah tak terperikan….
….jika berpikir positif, mengenal seseorang secara emosional memberikan akses pada sebuah bank data kepribadian tempat kita dapat belajar banyak hal baru : wanita adalah makhluk yang tak mudah diduga. Ada semacam komposisi kimiawi tertentu di dalam tubuh mereka yang menyebabkan lelaki dengan komposisi kimiawi tertentu pula merasa betah didekatnya. Maka cinta adalah reaksi kimia sehingga keanehan dapat terjadi..

Finally, khatam HP7….huhuhuhu….

Berkat sodari Ica, sobat kentelQ sedari bayi nitip beliin HP7 di jogja langsung aja pas kbeneran pulang dari solo hari senen, 28 January 2008 buruan cabs ke togamas. Wedeww, how`s lucky me ternyata yg soft cover baru aja di jual ke pasaran kmaren hari Minggu tgl 27. coba tebak brapa harga yg ku dapet sodara2? 120rebu! Lumayanlah bisa saving beberapa puluh ribu daripada bli di gramed. Sebelum nantinya di jual ke ica, apa salahnya jikalau Hp7nya ku perjakai dulu, huehue….*kedip kedip*
Keesokan harinya mulai melahap HP7 halaman demi halaman. Betah banget seharian g keluar kos. Anehnya g ngerasa laper juga. Demi menghargai Bude yg uda bikinin masakan bwtQ dari pagi jadi harus maem dunk. First day berhasil sampe 300 lembar.
Hari pun berganti….Rabu….pagi-pagi mpok dyah sodari seperjuanganQ di antro sekaligus di asrama dewi uda bertandang ke kamar. Dy heran aq uda idup yg biasanya masi ngiler, si empok mewartakan bahwasanya dy uda rampung ngerjain tugas mulia menulis skripsi..wow…ikut seneng deh…(sungguh berbeda 360o dg apa yg kulakukan dewasa ini g bgt de…:p) nantinya dy akan menyerahkan maha karyanya ke dosen pembimbing skrip yakni kanjeng ratu nanik untuk akhirnya dikoreksi sini sana demi kebaikannya jua. Well, hari kedua baca HP7 tetep kudu melakukan tugas kita sebagai makhluk sosial antara lain…nganter tmen kos periksa kesehatannya ke Gadjah Mada Medical Centre terus bantuin bude bikin sotoy ayam buat seantero asdew dalam rangka ngamal di bulan muharam lantas nganter bludy adekQ terkasih semata wayang kembali ke pesantrennya, juga ktemuan sama mummy & Jamie masQ di lempuyangan yg mo bertolak ke Jakarta ngurus visa ke Malaysia bwt nyusul pop yg lagi semangat ngelanjutin sekolah disana di usia senjanya. Baru malem hari mulai ngebut baca lagi. Dan ketika mata mulai tak tahan menahan kantuk halaman sudah menunjukkan angka 750.
Target bwt nyelesein HP7 harus terpenuhi hari ini di akhir Januari. Mengacuhkan ajakan sahabat2 yg mo pada turun ke jalan aksi menanggapi kondisi nasional terkini. Uda lama diriQ memutuskan untuk berhenti “jejingkrakan” di jalan sejak 19 Desember 2005. Mulai baca jam9 pagi terus tanpa henti….ada kawan yg datang untuk konsultasi…dilanjut lagi sampai akhirnya…Goallll!!!!!! Tepat pukul 02.25 p.m diriQ usai menelan bulat-bulat HP7. Pfeeww….so apa sari pati yg bisa diambil dari sekuel paling mentok petualangan sang penyihir yg punya luka dg sambaran kilat di jidat? Ada beberapa point: penyihir bener2 tergantung sama yg namanya tongkat sihir seperti halnya manusia yang sekarang amat bergantung dengan Hp alias ponsel. Seakan hidup hampa tanpanya. Hmmm…penyihir juga layaknya muggle yg punya perasaan butuh mencintai ataupun dicintai, itulah yang tak dimiliki oleh kau tau siapa lah. Seperti pameo yg sangat terkenal dari novel sang Alkemis…ketika kau memiliki mimpi maka seluruh semesta pun kan membantu untuk mewujudkannya jika kau terus berusaha…persis dengan HP7 apabila kita menginginkan sesuatu..perjuangkan terus sampai dapet..yakin de…pasti The Most Almighty GOD kan brikan jalan. Bolehlah sekali2 menoleh ke belakang tapi janganlah terbuai olehnya. Go forward!!!keep on moving, dear!!!
Hal yang paling kocak waktu si Dudley tanpa disangka ataupun dinyana dengan berat hati berpisah sama sepupunya yg terus menerus ditindas bertahun2 lamanya, Harry Potter dan mengucapkan terimakasih sampai2 babehnya si Vernon dursley sama enyak petunia terhenyak tak percaya seakan buah hatinya menginginkan untuk jadi ballerina, wakakakak :D. Bikin sedih ketika orang2 terdekat harus kehilangan nyawanya demi memerangi Lord Voldemort, yang jelas banyak kejutanlah di buku harry potter dan relikui kematian termasuk harry yang akhirnya berkeluarga dg Ginny weasley dan beranak pinak. Viva la potter!!! 4 thumbs up bwt ibu Listiyana Srisanti yang okey bgt translate-in sekuel HP dari 1 sampe7. Semoga saja diriQ bisa mengikuti jejak beliau.
Setelah khatam Harry Potter and the deathly hallow harus mulai serius ngerjain 6 sks yukk baca dan pahami buku2 bahan skripsi sebanyak2nya laiknya menikmati novel di tiap halamannya. Di awal bulan baru kudu smangat baru…jangan sampai janji ini CUMA jadi pepesan belaka yang berulang2 kosong. INGAT…masa depan tak berarti APA-APA tanpa disertai usaha hari ini JUGA!!!
Bagi orang2 yg nganggep harry potter sebagai bacaan yg g penting monggo2 kemawon karna emang selera orang beda2. At least, mari sama-sama gemar membaca apa aja, yang berkualitas tentunya!!!

Roemah kartosoewirjo, 2 Februari 2008