Category: masterpiece


(dimuat dalam Jurnal Srinthil:Media Perempuan Multikultural Desantara Foundation edisi 021 tahun 2010, Perempuan dan Urban Sufism)

Langit mendung menggelayuti kota solo siang itu. ada keriaan anak- anak tercipta di serambi rumah yang sekilas nampak biasa seperti rumah sederhana di kota pada umumnya.tak ada cukup ruang untuk anak- anak agar dapat bermain bebas berlarian kemanapun mereka suka. hanya jalan sempit di depan rumah yang dapat mereka gunakan untuk sekedar bercanda ria dengan kawan sebaya. Tetapi, siapakah mereka sebenarnya?awalnya Srint!l tak begitu yakin ketika memutuskan menghentikan laju motor untuk bertanya pada anak- anak itu apakah benar rumah tempat mereka berada saat ini adalah pesantren khalimatussa’diyah yang konon katanya memiliki ciri khas unik yang berbeda dengan pesantren biasa.“Ayo mbak’ masuk aja ke dalam” ajak salah seorang anak dengan ramah. Setelah dipersilahkan memasuki ruang tamu, ada seorang laki- laki dan seorang perempuan yang belakangan diketahui sebagai sepasang suami istri dan setia menjadi santri umi, menyambut kedatangan kami dengan hangat dan terbuka menjawab segala pertanyaan . Meski ini adalah kala pertama kita bersua, tetapi suasana akrab terbangun seketika. Agaknya mereka sangat terbiasa menghadapi tamu dari berbagai macam kalangan yang datang tanpa mengenal waktu, baik pagi, siang, sore ataupun malam. Suguhan makanan dengan sigap disajikan. Ternyata di pesantren itu tinggal sekitar 60 orang dari bermacam umur, daerah asal dan latar belakang. Kebanyakan dari mereka memiliki kesamaan tujuan, mengkaji akhlaq dengan melepas segala identitas yang melekat pada diri masing- masing. Mereka menekankan jangan gunakan tolak ukur pesantren lain untuk menilai pesantren ini karena akan sangat berbeda. Mengapa demikian? Saat tanda tanya besar memenuhi kepala kami tiba- tiba salah satu santriwati dari pesantren itu memberitahukan bahwa umi memanggil kami ke dalam. Bagi kami hal ini merupakan kejutan karena berdasarkan informasi  sebelumnya umi yang disebut sebagai sosok sentral dalam pesantren itu sangat jarang menerima tamu yang bisa secara langsung berhadapan dengan beliau. Suatu kehormatan tersendiri bagi kami. Ketika itu di ruangan tengah ada pengajian yang sedang berlangsung yang sebagian besar diikuti oleh laki-laki. Kami diantar menuju tempat peraduan umi yang dipisahkan oleh satir (kain penutup) berwarna hitam. Dengan senyum yang mengembang di bibir beliau, seolah memberikan ucapan selamat datang pada kami.

Pembawaannya begitu tenang, air mukanya teduh menyejukkan. Adalah Umi Fauziyah Chamsi, pendiri pesantren khalimatussa’diyah yang berdomisili di Solo, Jawa Tengah. Berbeda dengan pesantren lainnya yang memiliki tempat secara permanen, pesantren khalimatussa’diyah selalu berpindah tempat. Batas maksimal kurang lebih dua tahun. Umi, demikian akrab disapa, mengemukakan alasannya bahwa pemilihan lokasi pesantren biasanya dilatarbelakangi oleh latar belakang masyarakat setempat. Seperti saat ini, di daerah Purwosari dimana terdapat sekelompok masyarakat yang cenderung menganut paham islam garis keras. Sebelumnya pesantren ini bertempat di sebuah desa wilayah Kartasura. Beliau mengatakan bahwa sebelum Pesantren Khalimatussa’diyah hadir di tengah- tengah masyarakat, para penduduk disana kurang taat dalam nenjalankan ajaran agamanya.”Alhamdulillah setelah pesantren ini ada, ibu- ibu yang tadinya banyak tidak berjilbab menjadi berjilbab dan rajin mengikuti pengajian” jelas Umi.

Melihat kenyataan hidup di zaman akhir yang selalu dikelilingi oleh berbagai piranti modern dan warna-warni pemuas. Banyaknya kebutuhan yang bertaburkan kemilaunnya fasilitas hidup yang semakin memanjakan manusia, dan memberikan nuansa hidup sangat bertentangan dengan potret ruang lingkup manusia dimasa lampau. Semua cermin gambaran hidup yang sederhana, bermodalkan peralatan dan teknik yang masih terbatas. Dan mengajak manusia untuk bergaul akrab dengan alam sehingga menciptakan sebuah tipologi budaya yang cenderung harmonis antara manusia dan sesamanya serta alam sekitarnya, dalam sebuah keselarasan interaksi. Oleh sebab itu menjadi tantanggan yang besar dan perjuangan berat untuk bisa mengibarkan keberhasilan, syiar agama dijaman modern. diperlukannya sebuah falsafah syiar yang arif dan bijak untuk bisa menyentuh han berati manusia modern yang terkandung asyik terbuai dalam tinggi rendahnya dunia. ”Berpegang pada falsafah berpenampilan ala Amerika , bekerja dan berpikir ala Jepang, hati atau akhlak tetap seperti Mekah yang menjadikan sesuatu landasan perjuangan syiar yang dipegang oleh Pesantren Khalimatussa’diyah”terang Umi penuh semangat.

Dunia beserta isinya termasuk dhohir manusia merupakan perwujudan entitas yang selalu berubah, inilah suatu keniscayaan hokum alam, yang juga kodrat dunia untuk bersifat “fana”. Inilah takdir ALLAH untuk dunia, termasuk dhohir manusia penuhilah kodrat itu dalam kendali keridhoan ALLAH SWT. Penuhilah penampilanmu yang sejaman denganmu,karena keberadaan dhohirmu menunjukan engkau hidup didunia yang fana. Inilah salah satu maksud dari istilah ”berpenampilan ala Amerika.”

Selain dhohir, manusia juga memiliki karunia serta kekuatan mengedalikan dan mendayagunakan dunia. Akal, tenaga, pontensi dan seluruh indra yang melekat pada diri manusia adalah tanda-tanda kebesaran Ilahi yang selalu menemani manusia dalam menunaikan tugas dunia, inilah nikmat karunia ilahi, sempurnakanlah rasa syukmu, bentangkanlah sayap-sayap ikhtiarmu lalu terbanglah kedalam angkasa rahmatNYA maka engkau akan saksikan tangan-tangan ALLAH untuk mencukupi kebutuhanmu. Inilah salah satu maksud dari bekerja dan berfikir ala Jepang.

Adapun ”hati tetap mekah” adalah indra batin atau hati manusia yang tetap diikatkan pada tali ALLAH, hati yang senantiasa bertawaf dzikir pada ALLAH dan akhirnya mampu memancarkan cahaya rahmat dan keridhoaNYA. Hati yang semacam ini akan selalu kuat memegang kendali pada seluruh anggota tubuh dan memimpinnya pada ketaatan dijalaNYA. Inilah yang dimaksud dengan tercapainya nikmat ALLAH yang paling hakiki, yakni hati yang jernih dan mampu menyerap cahaya Ilahi dalam diri seorang hamba. Oleh karena itu, upaya pemeliharaanya jauh lebih penting dari pada organ-organ tubuh yang lain, karena menyangkut langsung proses pengenalan hamba pada Tuhannya. Tetapi bukan berarti penjagaan yang lain tidak penting, karena mungkinkah batin seseorang itu bersih kalau ia tidak mengamalkan perbuatannya, kalau ia tidak bermanfaat bagi lingkungannya, kalau ia tidak menjaga dunianya. Melalaui perjuangan kuat memelihara batin maka seorang hamba telah menghadirkan dan mengejawantahkan sifat-sifat ALLAH dalan setiap sikap, kesadaran, perbuatan serta seluruh ruang lingkup orientasi hidupnya. Sehingga, pancaran Rahmat Ilahi tidak hanya jatuh pada ”diri” tapi mampu menyebar kuat, memancarkan manfaat dalam seluruh sendi-sendi kehidupan.

Kiprah Pesantren Khalimatussa’diyah

Pesantren Khalimatussa’diyah memiliki andil dan kiprah yang nyata untuk mencetak generasi penerus Islam sesuai dengan amanah akhlak dan tuntunan ajaran Rasulullah SAW. Bepegang pada misi memberantas krisis moral penerus bangsa khususnya Umat Islam, maka Pesantren Khalimatussa’diyah  mengantungkan nafas orentasi dan pembinaan umat pada pedoman ajaran Akhlakul Karimah Rosulullah SAW oleh karena itu berbekal pada konsistensi mejaga dan mengembalikan semangat persaudaraan muslim yang murni dan tulus, maka wadah pesantren ini tidak mau bersentuhan dengan unsur-unsur apapun dan pihak manapun yang memiliki kepentingan dan keterkaitan politik, serta kepentingan apapun yang mengkotak-katikkan kekuatan Islam dan mengancam keutuhan persaudaraan umat muslim.

Wujud implementasi dari teguhnya memegang prinsip “tanpa bendera, lepas unsur politik” telah di terjemahkan secara nyata dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari yang dikelola dari aset sendiri secara mandiri. Dalam hal ini pondok memiliki program melatih beberapa santri untuk bercocok tanam mengolah lahan pertanian milik pondok dan diambil hasil buminya sebagai salah satu tulang punggung pemenuhan kebutuhan pokok para santri. Dengan memanfaatkan aset milik pondok secara maksimal, bisa diharapkan jaminan manejemen pengelolaan pondok dapat dipertanggungjawabkan ”kebersihannya” dari segala campur tangan kepentingan.

Meresapi nilai-nilai ajaran kasih sayang dalam ajaran Akhlakul Karimah Rasulullah SAW, maka awal pendirian wadah pesantren ini berusaha merangkul para saudara muslim yang kurang mampu, anak yatim serta anak-anak terlantar yang selanjutnya dididik dengan ilmu Ajaran Islam, pengetahuan umum serta ketrampilan yang memadai agar menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan yang nyata di tengah-tengah masyarakat. Namun pada perkembangannya, Pesantren Khalimatussa’diyah justru didatangi santriwan dan santriwati yang komplek, seperti, para musyafir penuntut ilmu, para mahasiswa(STAIN, UNS, UMS, UNIBA, UNDIP, UTP, UNSA, STIES, pelajar, dll), masyarakat muslim khususnya di sekitar pondok, para pasien pengindap penyakit fisik maupun jiwa, serta korban pecandu narkoba serta keluarga muslim dari berbagai wilayah yang terdiri dari berbagai golongan dan status sosial.

Proses pendidikan yang sudah dijalankan semata-mata mengharapkan keikhlasan yakni tanpa dipungut biaya. Adapun sistem pengajaran yang dipilih bersifat kontektual, yakni perpaduan antara pembekalan materi-materi umum (misalnya, pelajaran-pelajaran sekolah dan wawasan umum, pembinaan bakat dan ketrampilan diberbagai bidang, pembentukan kelompok-kelompok belajar, dan lain sebagainya), dengan materi-materi pengajaran yang bersifat kaagamaan (semisal, pembentukan sistem interaksi belajar ala salaf yakni sistem sorogan, pembentukan sistem kegiatan harian yang menuju pada pembentukan kepribadian Akhlakul Karimah, pengajaran dan pengajian kitab-kitab atau materi salafiyah, pengajian dan dzikir bersama pembentukan TPA dan TPQ dan lain sebagainya).

Suatu hal yang tak kalah pentingnya adalah usaha pondok untuk melakukan pembinaan secara aktif terhadap masyarakat yang berkaitan dengan pemahaman keagamaan. Pelatihan cara memandikan jenazah merupakan salah satu contoh dari sekian usaha yang dilakukan pondok untuk meningkatkan kualitas pemahaman agama masyarakat. Dengan langkah praktis dan mudah dipahami, pondok berusaha menyebarluaskan kemampuan dalam ajaran Islam yang wajib dimiliki dan dikuasai oleh masyarakat, terutama yang berhubungan langsung dengan tuntunan Islam dalam hidup bermasyarakat. Tak hanya membatasi pada hal yang Berhubungan Akherat, kiprah pondok di dalam masyarakat juga terwujud pada usaha memakmurakan dunia. Usaha untuk mempelopori pelatihan-pelatihan berbagai ketrampilan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu ditujukan agar masyarakat mampu berdaya dan tumbuh secara mandiri. Dari proses tersebut, diharapkan secara perlahan masyarakat mampu menumbuhkan visi kesadaran umum yang tumbuh secara alamiah dalam wujud semangat keagamaan yang kokoh menompang tatanan hidup dan peningkatan kesejahteraan hidup.

Secara lebih jauh, pengenjawantahan sistem pengajaran pondok juga di integrasikan dalam wujud penanganan terapi penyembuhan terhadap pasien pengidap sakit jiwa. Sudah menjadi bagian dari pelajaran di dalam pondok, lingkungan beserta isinya merupakan sebuah media dialektis tempat para santri mempraktekan amanah melakukan proses pengabdian dan pelayanan. Bertujuan membentuk pribadi penerus Islam yang berjiwa amanah, maka penanganan terhadap penyakit jiwa memberikan sumbangsih yang berharga dalam mendidik para santri mengajarkan praktek kesabaran, kasih sayang, kepemimipinan yang berpadu dengan ketekunan. Oleh karena itu,secara garis besar penanganan terapi penyembuhan bagi para pasien sakit jiwa sangat mengutamakan prinsip kemanusiaan.

mengaji sehari-hari

Dalam pandangan pondok, para pasien sakit jiwa merupakan sosok manusia yang mengalami gangguan spiritual maupun mental sehingga menurunkan fungsi kesabaran manusianya yang normal. Oleh sebab itu, upaya untuk membantu proses kesembuhannya melibatkan berbagai aspek yang mendukung pemulihan keadaanya. Dengan memperhatikan kararteristiknya pribadi setiap pasien, secara fisik maupun mental perlahan-lahan dan alamiah para pasien dibimbing untuk membangun kesadaran diri dan lingkungannya, dilatih bersosialisasi dengan manusia normal, menerima praktek pelajaran akhlak, berbaur dan berinteraksi secara alamia tanpa mendiskriminasi posisi mereka, bermunajah dan dzikir bersama menanamkan rasa tanggungjawab menjaga pondok dan lain sebagainya. Dengan cara semacam ini maka diharapkan secara alamia akan bangkit kemauan internal pada diri pasien untuk sembuh. Dan pada taraf selanjutnya mengaktifkan organ-organ kesadaranya untuk melakukan menuju kesembuhan, maka baginya mendapat perhatian yang khusus dan kewajiban sebagaimana seorang santri yang tengah belajar agama. Kebiasaan bersosialisasi secara akrab dan alamiah dengan lingkungan pondok akan membuatnya mengalami penyegaran jiwa dan membangun dunia kesadaran baru yang membuatnya optimis menjadi manusia normal/sehat. Untuk memaksimalkan proses penyembuhan disela-sela waktu para pasien juga menerima pelatihan bakat dan ketrampilan pembinaan dari guru semua proses tersebut diupayakan agar dikemudian hari setelah pasien sembuh, mereka dapat mengambil pelajaran dari pondok sebagai bekal diri dan dapat memanfaatkan bekal ketrampilan yang diperoleh atas tuntunan dari guru dalam kehidupan bermasyarakat nanti.

Mengenal Lebih Dekat : Umi Fauziyah

Kepemimimpinan Umi atas pesantren ini adalah kepemimpinan yang karismatik (bagian dari managemen tradisional berdasarkan pada kewibawaan), jauh berbeda dengan kepemimpinan modern (berdasarkan profesionalitas dan otoritas formal). Disamping itu, Umi juga dikenal sebagai ”orang pintar”(memiliki kekuatan supra natural) yakni melakukan peran sebagai da’i dengan pendekatan khusus,mendengarkan, menampung permasalahan seseorang dan membantunya mencarikan solusi pada orang yang membutuhkan. Melalui pembinaan kepada santrinya yang bernuansa bathiniyah,sufistik,bahkan metarasional pula memberikan panutan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Salah seorang murid Umi, ibu Sumi mengatakan bahwa ketika ia sedang mengalami permasalahan rumah tangga ia meminta Umi untuk memberikan jalan keluar kemudian Umi pun dengan penuh kasih sayang memberikan wejangan bahkan contoh konkret misalnya bagaimana caranya mendidik anak agar kelak menjadi generasi penerus yang sholeh dan sholehah. Umi dikenal di berbagai kalangan, dari para pejabat hingga anak-anak. Di kota Solo terdapat berbagai macam aliran Islam, dari yang moderat hingga yang begitu keras. Umi bersedia 24 jam untuk berdiskusi mengenai apapun.

Ketika Srint!l terlibat dalam satu kajian yang sebagian besar anggotanya menggunakan pakaian hitam atau putih tidak ada warna lain tiba- tiba salah satu ustadz yang memimpin kajian itu membacakan pesan singkat dari ponselnya yang berasal dari Umi yang isinya yakni:

“Bismillah..perlu dipahami diketahui diingatkan, tidak akan tahu akhlaq tinggi sebelum memahami, mengerti Al-Qur’an dan semua Al-Hadits, pahamkan sekarang! Mana mungkin hamba Allah tahu akan tauhid dan kebenaran kalau tidak menjajaki apa itu Al-Qur’an. Selama ini memang guru alihkan agar punya dulu rasa cinta pada Allah, guru selalu siap diajak buka kitab apapun”

Setelah itu semua anggota yang hadir menuliskan kembali apa yang dikatakan ustadz tersebut ke dalam catatan masing-masing kemudian mendiskusikan apa maksud dibalik pesan itu.

Pola interaksi antara Umi dengan ustadz, santri dan pengikutnya sangat unik. Apapun yang dikatakan Umi adalah kebenaran itu sendiri yang tak tersanggah. Jika berada dalam suatu majlis baik yang formal maupun informal bersamaan antara santri dengan Umi maka sangat jarang santri yang berani bertatapan wajah. Kesempatan untuk bertanya kepada Umi sebenarnya selalu terbuka tetapi adakalanya suatu pertanyaan nanti akan terjawab dengan sendirinya jika ”saatnya” tiba. Seolah sang guru tahu apa yang menjadi isi pikiran santrinya. Di mata santri-santrinya memang Umi diyakini memiliki daya basyiroh (kemampuan untuk melihat sesuatu yang ghaib dengan mata batin). Oleh karena daya supranaturalnya tersebut, Umi dapat mengobati orang yang sakit, baik sakit kejiwaan hingga orang yang menderita sakit fisik. Umi juga sering dimintai ”tolong” oleh banyak orang dengan berbagai kepentingan mereka.

 

 

Bersinggungan dengan Neosufisme

Dalam kiprahnya, tasawuf (baca: tarekat) tak henti-hentinya bekerja dengan pendidikan kerohanian dan disiplin tinggi. Maka Fazlur Rahman (1984) menceritakan bahwa tasawuf  ini menanamkan rasa disiplin dan aktif dalam medan perjuangan hidup, baik sosial, politik, ekonomi. Gerakannya berada pada perjuangan dan pembaharuan. Programnya lebih berada dalam batasan positivisme moral dan kesejahteraan sosial daripada “terkungkung”dalam batasan-batasan spiritual keakhiratan. Coraknya lebih purifikasionis dan lebih aktivis, memberantas penyelewengan moral, sosial dan keagamaan. Maka, Fazlur Rahman menamakannya sebagai neo sufisme.

Menurut Fazlurrahman, neosufisme adalah jenis tasawuf yang telah diperbaharui, di mana ciri dan kandungan asketik serta metafisisnya sudah diganti dengan kandungan dari dalil- dalil ortodoksi Islam. metode tasawuf baru ini menekankan dan memperbaharui factor moral asli dan control diri yang puritan dalam tasawuf. Gagasan dari neosufisme yaitu sufisme yang cenderung untuk menimbulkan aktivisme social dan menanamkan kembali sikap positif terhadap dunia. Tokoh perintisnya adalah Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah. Neosufisme tidak menolak epistemology kasyf yang dianggapnya sebagai derajat proses-proses yang bersifat intelektual dan mempergunakan seluruh terminology sufi yang esensial serta mencoba memasukkan ke dalam sufisme makna moral dan puritanical serta etos sosial. (Fazlur Rahman, 1984:284)

Profil pengamal neosufisme tidak semata-mata berakhir pada keshalehan individual melainkan berupaya untuk membangun kesalehan social bagi masyarakat di sekitarnya. Mereka tidak hanya bermaksud memburu surga untuk orang banyak dalam kehidupan social. Makna yang dapat diperoleh dari pemahaman ini adalah alternatif pengembagan tasawuf untuk menghayati keberadaa Tuhan menuju pada pengamalan perintah-Nya dalam pola tasawuf sosial.

Iklan

Selayang Pandang Negara Turki

aya sophia..semoga bisa kesana:)

Republik Turki adalah sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Ibu kotanya berada di Ankara namun kota terpenting dan terbesar adalah Istanbul. Kawasan yang terdiri dari Turki modern telah menyaksikan kelahiran peradaban-peradaban utama, termasuk Kekaisaran Bizantium dan Kekhalifahan Turki Utsmani. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya timur dan barat yang unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua buah peradaban (www.wikipedia.org).

Kebudayaan Turki pada saat ini masih tetap didasarkan pada tradisi- tradisi Islam, di mana pengaruh barat hanya tampak di kota-kota besar, hal itu berarti hanya di lapisan atas saja dan jangkauannya sangat terbatas. Pem-barat-an nampaknya hanya sangat kecil berpengaruh pada rakyat pedesaan yang secara kuantitas lebih dari tiga perempat dari seluruh penduduk Turki

Mengenai identitas orang Turki hingga saat ini masih menjadi perdebatan antara yang menyatakan bahwa orang Turki pada jaman Ottoman adalah muslim sejati dan penolakan terhadap pandangan tersebut. Agaknya sudah menjadi sifat dasar masyarakat Turki, identitasnya dan masa depannya (termasuk apakah Turki dapat menemukan tempat dalam masyarakat Eropa) hingga saat ini belum menjadi satu hal yang pasti (Ahmed, 2003: 161). Kebudayaan Turki  mempunyai beberapa persamaan dengan kebudayaan barat. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sejarah dan geografis.

Sejak Konstitusi Republik pada 20 April 1924 negara nasional turki pada asasnya adalah sekuler. Awal mulanya peninggalan Konstitusi Usmaniyah yang pertama tahun 1876, Islam diresmikan sebagai agama negara kemudian setelah Ataturk berkuasa Ia menghilangkan klausul: “Agama negara Turki adalah Islam” pada 10 April 1928.

Sekelumit tentang Sekulerisme Turki

Turki menyimpan sejarah yang panjang mengapa negara yang sekitar 99% masyarakatnya beragama Islam itu beralih prinsip negaranya dari kekhalifahan menjadi sekuler. Sekularisme berawal dari proses pem-barat-an yang merupakan hasil dari gerakan revolusioner yang ditimbulkan oleh banyak faktor sejak kemunduran imperium Osmaniyah. Momentum gerakan ini terjadi setelah revolusi Perancis dan berkembang dengan kuat sepanjang abad XIX. Hasil langsung dari gerakan ini adalah revolusi Turki Muda 1908 yang merupakan awal pertumbuhan nasionalisme Turki dan pembentukan Republik Turki.

Pasca Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan pada pihak Jerman dan Turki, sebagai pihak yang menang perang, tentara Sekutu  masuk dan menduduki bagian-bagian tertentu di kota Istanbul. Sementara itu, Yunani dengan bantuan Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat hendak merampas kembali wilayah- wilayahnya dari Turki. Kehadiran tentara sekutu dan Yunani menimbulkan amarah dan semangat rakyat Turki untuk mempertahankan tanah air mereka. Dalam suasana serupa inilah tampil Mustafa Kemal yang dengan gagah berani berjuang menyelamatkan Kerajaan Ottoman dari kehancuran total dan ekspansi Eropa. Atas usaha Mustafa Kemal dibentuk Majelis Agung pada tahun 1920 dan Ia terpilih sebagai ketuanya. Setahun kemudian disusun konstitusi baru yang menjelaskan bahwa kedaulatan adalah milik rakyat. Dari hari ke hari kedudukan Mustafa Kemal semakin kuat di mata rakyat. Dalam kedudukannya sebagai panglima dari semua pasukan yang ada di Turki Selatan, Mustafa Kemal membentuk pemerintahan tandingan di Anatolia, sebagai imbangan terhadap kekuasaan Sultan Abdul Madjid II di Istanbul. Hal ini dilakukannya karena Ia melihat Sultan sudah berada di bawah kekuasaan Sekutu.

Akhirnya, pada tahun 1922  Majelis Agung di bawah pimpinan Mustafa Kemal menghapuskan jabatan sultan. Ia kemudian memproklamasikan Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Pada tahun 1924 jabatan khalifah juga dihapuskan dan Abdul Madjid II, khalifah terakhir, diperintahkan meninggalkan Turki.

Sekularisme merupakan ciri khas ideologi Turki Muda sejak tahun 1913. Pada tahun 1930-an sekularisme bermakna ekstrem: sekulerisme diintrepretasikan bukan saja sebagai pemisahan negara dan agama, tetapi juga sebagai penyingkiran agama dari kehidupan publik dan tegaknya pengawasan negara atas institusi-institusi keagamaan yang masih ada.

Dalam analisis Robert N. Bellah proses sekularisasi di Timur umumnya didasarkan atas dasar desakralisasi, meskipun demikian para sosiolog Barat mengatakan bahwa sekularisasi sebagai proses yang tidak terelakkan, sebab menurut pendapat mereka proses ini bersifat universal, dan dikatakan sebagai suatu proses kemajuan masyarakat dengan berorientasi menuju hal-hal yang lebih besar, lebih baik, lebih modern, namun di satu sisi menjadi kurang religius. Gambaran seperti ini ditampilkan melalui proses modernisasi. Modernisasi bagi dunia timur merupakan program besar untuk membangun masyarakat. Namun proses ini erat kaitannya dengan proses sekularisasi yang menurut konsep Bellah dan Nurcholish Madjid cenderung mengartikannya sebagai desakralisasi. (Robert N. Bellah, 1970).

Angkatan Bersenjata Turki (TSK) merupakan pendukung sekulerisme Mustafa Kemal yang paling kuat, sekaligus pelaksana paling efektif. Penggunaan militer untuk tujuan-tujuan politik dan ideologi pemerintahan Kemal membentuk cara pandang militer terhadap institusi mereka. Tentara memandang dirinya lebih sebagai pelindung negara dari ancaman internal, baik itu Islam politik, sektarianisme, maupun nasionalisme Kurdi, ketimbang sebagai kekuatan pelindung dari ancaman luar. Politisasi angkatan bersenjata ini terlihat dalam serangkaian pemberotakan militer yang menghambat perkembangan demokrasi dan konstitusi di negara tersebut seperti yang terjadi pada tahun 1960, 1971-1980, dan 1997[1] (An Naim, 2007 :365-366).

Agama dalam Praksis Sehari- hari di Turki

Sebagai negara sekuler yang 99% penduduknya beragama Islam, Turki memiliki banyak hal menarik untuk diteliti. Apalagi kaitannya dengan kehidupan dan perbincangan agama sehari-hari di negara asal kebab tersebut. Agama agaknya menjadi arena perebutan dan kompetisi antara kelompok pro sekuler dan pro agamis di ranah publik. Pemerintah tentu saja juga memiliki peranan di dalamnya.

Sejak diberlakukannya sistem sekuler di Turki, muncullah pro dan kontra. Kedua kubu tersebut melancarkan pengaruh-pengaruhnya lewat beberapa cara, salah satunya melalui media massa. Bahkan seiring berkembangnya teknologi perdebatan itu sudah melampaui dunia maya (internet).

Melalui karya sastra, agama dapat diperbincangkan dengan cara yang berbeda. Lebih reflektif dengan apa yang dialami oleh masyarakat Turki sehari- hari dalam tataran realita. Beberapa sastrawan Turki (Nazim Hikmet, Yasar Kemal, Aziz Nesin, Orhan Pamuk, dan lain lain) dengan lantang ‘angkat bicara’ lewat tulisannya tentang kondisi sosial masyarakat Turki yang penuh dinamika.

Dina, seorang mahasiswa Indonesia yang pernah berkunjung ke Turki mengatakan para pemuda di Turki yang tinggal di perkotaan sangat jarang yang menjalankan ibadah agama Islam, mungkin hanya sekitar 40% yang benar-benar melakukannya. Selebihnya mereka hanya pura-pura beragama Islam atau sekedar dalam identitas

Ketika Ataturk menerapkan kebijakan-kebijakannya pada tahun 1923 yang sangat berkiblat pada dunia barat, semua sendi kehidupan masyarakat Turki di atur sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Dalam hal ini kaitannya dengan sekularisasi simbolis yang melekat pada model berpakaian orang-orang Turki yakni pelarangan penggunakan fez[2] diganti dengan topi[3] bagi kaum pria dan pembatasan pemakaian jubah atau cadar untuk kaum wanita. Pemberlakuan Undang-undang Topi ini banyak mengalami penentangan oleh pengikut tarikat Naqsabandiyah.

Sekularisasi simbolis merupakan aspek penting dari pembaharuan Kemalis. Penyebabnya adalah terkait dengan bidang sekularisasi yang mempunyai signifikansi krusial bagi konsep Kemalis mengenai negara modern, yakni transformasi budaya.  Menurut Kemal, transformasi ini sengaja dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan cara transformasi simbol-simbol yang dominan di masyarakat dalam konteks ini dengan mengubah model berpakaian masyarakat Turki.

Geertz mendefinisikan kebudayaan sebagai “pola makna- makna (pattern of meanings) yang ditransmisikan secara historis dalam simbol- simbol. Suatu sistem konsepsi- konsepsi warisan (a system of inherited conception) dalam bentuk- bentuk simbolis, yang dengannya manusia berkomunikasi, memperkuat dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan. (Geertz, 1966: 3)

Meski menganut sistem sekuler yang melarang wanita mengenakan jilbab di universitas dan instansi resmi, sebanyak 60 persen wanita di Turki memakai jilbab. Akibatnya, banyak wanita yang enggan menanggalkan jilbab menjadi putus kuliah atau mereka dengan sangat terpaksa membuka dan menutup jilbabnya agar tetap dapat melanjutkan kuliah.

Ketika pada tahun 1924 Kemal melakukan penghapusan fungsi Seyhulislam dan Kementrian Urusan agama dan Wakaf. Sebagai gantinya didirikanlah dua direktorat yaitu Diyanet Isleri Mudurlugu (Direktorat Keagamaan) dan Evkaf Umum Mudurlugu (Direktorat Jenderal Yayasan Keagamaan). Didirikannya direktorat-direktorat ini jelas menunjukkan bahwa persepsi sekulerisme Kemalis tidak berarti sebagai pemisahan antara agama dan negara namun sebagai kontrol negara atas agama (Zurcher, 2003: 243).

Semacam Penutup: Ke Turki Kita Mengaji

Di Turki kemajuan terbesar dalam bidang ekonomi, politik, sosial, yang terjadi atas dasar fondasi kultural. Namun kesulitan politik masih harus dihadapi karena didukung oleh konsepsi-konsepsi agama tradisional yang kuat (terutama pada masyarakat pinggiran), karena itu perubahan dari masyarakat tradisional hanya bersifat sementara. Pada akhirnya program sekularisasinya gagal karena basis keagamaan pada masyarakat pinggiran tersebut masih tetap hidup dan tidak bisa dihapus oleh program tersebut. Modernisasi di Turki mengalami kegagalan karena tidak berhasil mengintegrasikan nilai-nilai baru dengan nilai-nilai tradisional keagamaan masyarakatnya untuk mendukung proses tersebut. Pada kasus ini, Turki menunjukkan sesuatu yang lain, yaitu bahwa justru pada saat dihapuskannya hal-hal yang bersifat keagamaan di daerah perkotaan secara diam- diam di daerah pinggiran agama berkembang dengan baik. Atau dengan kata lain, dari atas dilakukan sekularisasi, sebaliknya dari bawah justru dilakukan desekularisasi.

Di masa hubungan Barat-Islam yang menyentuh titik-nadir ini, Turki bisa memberi sumbangan positif untuk menjembatani dua dunia yang mestinya tak berseteru itu. Sebab perseteruan hanya merugikan pengembangan peradaban dunia bersama; terutama merugikan pihak yang jauh lebih lemah, yakni dunia Islam yang memayungi seperlima warga bumi.


[1] Majelis Keamanan Nasional memaksa pemerintahan yang dipimpin Necmettin Erbakkan dan partainya Partai Kesejahteraan Islam (RP) untuk mengundurkan diri pada tanggal 28 Februari 1997.

[2] Topi laken (kain tenun dari bulu domba/ wol) yang dahulunya merupakan penutup kepala tradisional orang Utsmani sejak masa Sultan Mahmud II.

[3] Topi gaya barat yang lebar seperti topi koboy dipandang sebagai simbol orang Eropa Kristiani.