Latest Entries »

Seize The Day

Jalani hari-harimu semaksimal mungkin Dapatkan yang terbaik dari tiap jam, tiap hari dan tiap umur hidupmu Lalu kamu bisa menatap ke depan dengan penuh percaya diri Dan menoleh ke belakang tanpa rasa sesal Jadilah dirimu sendiri-namun dirimu yang terbaik Beranilah tampil beda dan ikuti bintangmu sendiri Jangan takut merasa bahagia Nikmati segala keindahan Cintailah seluruh jiwa ragamu Dan yakinlah bahwa orang-orang yang kamu cintai juga mencintaimu Lupakan kebaikan yang pernah kau lakukan pada teman-temanmu Dan ingat selalu kebaikan-kebaikan mereka Abaikan utang dunia padamu Dan sebaliknya berkonsentrasilah pada utangmu pada dunia Bila kamu dihadapkan pada suatu keputusan, buatlah sebijaksana mungkin Lalu lupakan Kebenaran absolut tidak pernah benar-benar ada Di atas segalanya ingatlah bahwa Tuhan menurunkan pertolongan kepada mereka yang mau membantu diri sendiri Berbuatlah seakan semuanya bergantung padamu, dan berdoalah sebab semuanya bergantung pada Tuhan. []

Kali ini saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya menghadapi anak-anak. Mereka adalah santri TPA El-Nile yang belajar mengaji di taman baca di rumah. Biasanya Ibu yang akrab dipanggil bude oleh anak-anak akan mengajar setiap sore kecuali hari Rabu yang diliburkan karena rutinitas pengajian kampung. Senin lalu ibu bertolak ke Kuala Lumpur mendampingi bapak untuk suatu urusan. Baiklah, tongkat estafet tanggung jawab sosial ibu harus dilanjutkan oleh putrinya: Saya. Hari pertama tanpa Bude ada 11 prenyil (anak, red) yang dateng. Awalnya semua berjalan normal. Sampai ada satu prenyil –sebut saja sri kelas 5 SD- yang asyik baca komik ‘coz I love you’ daripada ngaji. Akhirnya saya menegurnya “ayoo..ngaji dulu bacanya dilanjutin nanti” si sri cuma mrengut aja sambil terus baca komik dengan cueknya. Prenyil yang lainnya ikutan gemes juga dengan polah sri trus ada yang nyeletuk “sri emang gitu mbak, katanya dia mengidap kejiwaan cinta” eeh…saya berusaha menahan gelak tawa sambil mengamati reaksi sri. Dia menepisnya sambil nyengir. Hyaaa…jangan- jangan lagi ikutan galau lagi. Akhirnya sri mau ngaji, ternyata dia masih kurang lancar mengeja rangkaian huruf hijaiyyah. Di akhir ngaji dia bertanya soal valentine. “mbak azzah nanti pas valentine mau tak kasih coklat gak? Tapi nanti kejutan ding jadi aku gak mau bilang bilang”. Lah katanya kejutan jadi ngapain ngomong duluan, batinku dalam hati. Saya menimpali “kalau dalam islam, tiap hari itu bisa disebut sebagai hari cinta gak perlu nunggu 14 februari. Tapi kalo mo ngasih coklat ke temen ya gak apa apa”. Mungkin sri berimajinasi tentang perayaan valentine yang ia baca di komik Jepang. Biarlah dia berproses mencari tau tentang kebenaran itu.

mari sholawatan

bergembira bersama

Hari kedua, ada 22 anak yang datang TPA. Woww, subhanallah…jumlah santri terbanyak yg pernah ada. Kisaran umur prenyil dari 4 tahun sampai 11 tahun. Saya sangat kewalahan menghadapi anak-anak itu. Saya meminta tolong pada 3 santri yang lebih senior dan lancar mengaji untuk mengajari anak yang masih belajar iqro’. Ada banyak kejadian nano-nano waktu itu: prenyil yang terkecil –sebut saja tito- ngambek meratap di bawah pohon kelapa gara-gara disuruh belajar nulis huruf hijaiyyah di buku. Tiba-tiba  si tito ketemplokan ulet bulu. Langsung menjerit histeris. Untung ada embaknya, monika yang menenangkan tito untuk diam dan bilang kalo besok gak usah ikut lagi. Akhirnya tito berhasil tenang. Semoga tragedi ulet bulu ini tidak terulang. Saya khawatir kalau membuat trauma si prenyil. Musim hujan membuat ulet bulu beranakpinak secara pesat. Daun-daun tanaman koleksi ibu saya bolong-bolong di lahap si uler. Saya berinisiatif untuk menempel karya kaligrafi anak-anak di dinding TPA. Ditambah peta dunia yang diberikan seorang kawan dari Filipina. Menjadi kegembiraan buat saya melihat anak-anak yang asyik membaca koleksi buku taman baca el-nile.  Di akhir pertemuan saya mendaulat prenyil-prenyil untuk mengenalkan diri masing masing. Melatih rasa percaya diri dan mengakrabkan satu sama lain. Hari ketiga, kamis kemarin. Langsung dari jogja saya disambut anak-anak yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka iba pada saya yang terlihat lelah dan berkata ” mbak azzah istirahat dulu aja, mandi, sholat  sama minum. Kita disini sambil nungguin temen-teman yang lain dateng.”  Saya terharu karena perhatian mereka. Selesai bersih- bersih diri saya siap untuk belajar bersama mereka. Ada 14 santri yang hadir. Setelah berdoa sebelum belajar saya memimpin untuk hafalan surat juz ‘amma hingga Al-Asr. Kemudian saya mengajari mereka bahasa. Topiknya yakni angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab, inggris, dan jerman . Mereka begitu antusias menerima pelajaran itu meski sebenarnya sangat sederhana.  “Sampaikanlah ilmu walaupun hanya satu ayat…”itulah yang membuat saya semangat.

Homesweethomealone, 20 Januari 2012

• Sastra merupakan kebutuhan batin, sebuah prakarsa yang istimewa
• You come to love not by finding the perfect person, but by learning to see an imperfect person perfectly.
• Love is work
• Cinta itu membebaskan. Dan kebanyakan orang selalu menanti saat jatuh cinta secara alami.

Melankolia

Jatuh cinta itu biasa saja

• Bahwa cinta sejati bukan dibangun setelah orang menikah, seperti pangkalnya cinta disebabkan oleh kebiasaan tapi diawali dalam perasaan sreg yang tiba-tiba jatuh pada pandangan pertama dan kemudian perasaan itu dipelihara dalam keberanian menyangkal diri terhadap orang yang dicintainya demi cintanya itu. Rasanya hakikat menyangkal diri ini merupakan inti pembelajaran insani yang paling pelik yang tidak sembarang orang sanggup, tapi yang segala orang ditantang untuk mampu yaitu bagaimana seseorang mau mengalah pada rasa pembenaran terhadapnya. Seraya meyakini dengan hati terbuka bahwa kebenaran manusia selalu berkadar sementara. Saat ajaib itu pasti muncul. Niscaya ada rahasia- rahasia waktu yang demikian akrab namun tak pernah bisa dipahaminya. Berapa gerangan jumlah waktu yang tersedia bagi seorang lelaki untuk menjadi manusia, sementara jawaban yang sahaja dapat dirasakan dalam cintanya. Darimana gerangan datangnya cinta kalau bukan mata turun ke hati?

 

KL, 22-11-’11

Minggu malam lalu, saya terhenyak ketika memasuki panggung eksperimen UM dan menyaksikan para pemain teater mengenakan baju kebaya. Perempuan Melayu, berkebaya a la perempuan Jawa? Karena saya dan abang Jamal datang terlambat, maka saya harus cepat menangkap alur cerita yang dimainkan oleh para mahasiswa UM. Ya, mulai dari tanggal 13-19 November 2011 UM menjadi tuan rumah perhelatan festival teater MAKUM 2011 (Majlis Kebudayaan Universiti-Universiti Malaysia). Saya sebagai salah seorang penikmat teater girang bukan kepalang ketika mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana mahasiswa Malaysia beradu teater di atas pentas.

Dengan bertajuk Opera Primadona diangkat dari karya Nano Riantiarno, pertunjukan malam itu begitu banyak kejutan. Pertama, mereka berdialog menggunakan bahasa Indonesia meski terkadang logat melayu itu muncul  sesekali. Oh ya, demikian sinopsis dari opera primadona yang diambil dari pamflet:

Naskhah yang telah diolah dan diadaptasikan semula ini mengangkat watak antagonis di dalam persembahan sebagai penggerak cerita. Tertumpu pada kisah kehidupan Sri panggung di pentas opera iaitu Miss Kecubung. Beliau mula melibatkan diri dengan kumpulan persembahan opera sejak berusia 15 tahun. Miss kecubung mempunyai latar belakang keluarga yang mempunyai darah seni. Kemunculan Siti Kejora di dalam kumpulannya tidak disenangi oleh miss kecubung. Ketika pertama kali beraksi, Siti Kejora mempunyai daya tarikan di atas pentas lakon dan seterusnya diberi peluang memegang peranan utama. Ini menyebabkan timbulnya perasaan iri hati dalam diri miss kecubung.

Magis...

Pemakaman Tuan Petro nan dramatis

Kedua, para pemain teater berusaha keras untuk menunjukkan totalitasnya berteater meski harus menerabas segala batas-batas norma melayu. Menurut abang saya, disini pasangan melayu yang saling berpegangan tangan, berpelukan di depan umum menjadi hal yang tabu. Dalam opera primadona karya pendiri teater koma yang bersetting di Batavia era sebelum merdeka itu banyak sekali didapati akting yang mungkin dianggap fulgar. Termasuk pakaian penari yang terbuka, berkemben-ria. Terdengar suitan dari penonton yang menurut saya terkesan tidak menghargai dari esensi seni teater itu sendiri. Ketiga, setting dalam panggung yang berubah-ubah membuat cerita begitu dinamis. Keempat, make-up para pemain yang sangat tegas menunjukkan karakter dan kisaran umur mereka. Ada salah seorang mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa bernama Titis. Ia memiliki keahlian untuk merias para pemain supaya  nampak seperti peran yang dibawakan. Salut untuk Titis yang kali kemarin turut serta bermain di atas pentas. Dia telah berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa kita :). Kelima, ternyata apresiasi para penonton yakni orang Malaysia terhadap seni teater tidak terlalu heboh. Ini bisa dilihat dari setelah selesai acara mereka langsung saja beranjak pulang. Berbeda dengan yang terjadi di Jogja misalnya, selepas cerita usai biasanya kami memberikan selamat pada para pemain atau sekedar berfoto. Hal ini menurut bang Jamal disebabkan orang sini tidak begitu memandang baik profesi sebagai pekerja seni. Mereka tidak begitu mendapatkan tempat dalam hati masyarakat. Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi karya mahasiswa UM dalam Opera primadona: dalam pertunjukan (bukan) hanya ada satu primadona. Kalianlah itu semua. Selamat berkarya kembali bila-bila masa  🙂

Stelah pementasan

Mejeng bareng pemain dan anak2 students ex-change dari UI

Kamar Flat, 15 November 2011

Porong dalam lensa

senja di ufuk barat kali porong

jatuh cinta pada senja